Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada 4.000 balita orang asli Papua (OAP) melalui Program Bangkit (Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh) pada 2026.
Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Program Bangkit Papua Tengah Eliezer Yogi di Nabire, Selasa mengatakan program tersebut tahun ini dilaksanakan sebagai proyek percontohan di empat kabupaten, yakni Paniai, Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Dogiyai.
"Pemilihan empat kabupaten ini karena mayoritas masyarakatnya merupakan OAP sekaligus mewakili keberagaman suku dan budaya di Papua Tengah, yakni Mee, Moni, dan Dani," katanya.
Ia menjelaskan, setiap balita penerima manfaat mendapatkan BLT sebesar Rp350 ribu per bulan selama satu tahun atau total Rp4,2 juta per anak.
Jumlah bantuan dalam satu keluarga disesuaikan dengan jumlah balita yang dimiliki, sehingga keluarga yang memiliki lebih dari satu balita akan menerima bantuan sesuai jumlah anak yang memenuhi kriteria.
Pemprov Papua Tengah mengalokasikan Rp18,5 miliar melalui dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk pelaksanaan Program Bangkit pada 2026.
"Awal program ini kami memberikan bantuan kepada 1.000 balita per kabupaten, sehingga total 4.000 balita menjadi sasaran tahun ini," ujarnya.
Data penerima manfaat menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang selanjutnya akan diverifikasi dan divalidasi oleh pemerintah kabupaten bersama Sekber Provinsi Papua Tengah.
Elieser mengatakan, setelah peluncuran program, pemerintah akan melakukan sosialisasi di empat kabupaten dan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) bersama pemerintah kabupaten.
Pendampingan juga akan dilakukan sebelum dan sesudah penyaluran bantuan untuk memastikan dana digunakan sesuai tujuan, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan balita.
Pada 2027 Program Bangkit direncanakan diperluas ke seluruh delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
Sementara itu, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa saat meluncurkan Program Bangkit mengatakan, program itu dirancang untuk memperkuat perlindungan sosial dan pemenuhan gizi anak OAP melalui bantuan yang disalurkan langsung kepada keluarga penerima manfaat.
Ia mengatakan bantuan tersebut disalurkan melalui lembaga keuangan atau perbankan ke rekening ibu atau wali yang sah agar proses penyaluran berlangsung aman, transparan, dan akuntabel.
"Bantuan tunai bukan tujuan akhir, tetapi menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup anak Orang Asli Papua," katanya.
Menurut Meki, program tersebut diharapkan membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lain yang mendukung tumbuh kembang anak.
Ia mengatakan, Program Bangkit hadir sebagai kebijakan afirmatif karena kesehatan dan kesejahteraan anak di Papua Tengah masih membutuhkan perhatian serius, termasuk persoalan stunting, gizi buruk, angka kematian bayi dan balita, kepemilikan akta kelahiran, serta akses pendidikan anak usia dini yang belum merata.
"Melalui Program Bangkit Papua Tengah, kita ingin memastikan setiap anak Papua, termasuk yang tinggal di kampung-kampung dan wilayah yang sulit dijangkau, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Meki juga mengapresiasi dukungan SKALA yang membantu Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam perencanaan hingga pelaksanaan Program Bangkit agar berjalan lebih terarah, akuntabel, inklusif, dan tepat sasaran.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.