Presiden Turki Telepon Prabowo, Bahas Bilateral hingga Undangan Hadiri COP31 - Internasional Katadata.co.id

calendar_today 29.09.2026 - person  - timer ~

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan panggilan telepon dengan Presiden Prabowo Subianto. Menurut keterangan resmi yang dipublikasikan Kepresidenan Turki, keduanya membahas terkait hubungan bilateral Turki-Indonesia serta isu-isu regional dan global.

Erdogan juga menyampaikan apresiasinya atas solidaritas kedua negara di forum internasional. “Mempertahankan hal tersebut akan memberikan manfaat bagi kedua negara,” katanya dalam keterangan Kepresidenan Turki, dikutip Selasa (29/9).

Tak hanya itu, kedua pemimpin negara ini juga menyoroti pentingnya peningkatan kerja sama antara Turki dan Indonesia di berbagai bidang. Khususnya terkait perdagangan dan industri pertahanan.

Presiden Erdo?an mengatakan bahwa kedua negara akan terus mengambil langkah-langkah untuk mewujudkan hal tersebut.

“Presiden Erdo?an juga mengundang Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk menghadiri COP31 Leaders Summityang akan digelar di Antalya,” tulis keterangan tersebut.

Pertemuan Para Pihak (COP) ke-31 tentang perubahan iklim akan berlangsung di Antalya, Turki, pada 9-20 November mendatang. 

Penyelenggaraan COP tahun ini bisa dikatakan cukup unik, karena akan dipimpin oleh dua host, yaitu Turkiye dan Australia. Turkiye berperan sebagai tuan rumah, memimpin COP dan Agenda Aksi, sementara Australia berperan sebagai Presiden Perundingan, serta mengelola negosiasi dan membangun kompromi. 

Di tengah kemunduran komitmen iklim negara maju, Tri melihat dua kepemimpinan ini sebagai komitmen kuat dari Turkiye dan Australia agar proses-proses negosiasi berjalan dengan baik. 

“Ya tentunya nanti pasti setiap host ada keinginan legacy-nya, ada kepentingan nasional, wajar-wajar saja,” kata Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri Tri Purnajaya dalam diskusi ‘Arah Agenda Prioritas Kepresidenan COP31 dan Konteks Geopolitik’ di Jakarta, pada Selasa (4/8).

Tri tak menampik bahwa COP31 akan berlangsung di tengah situasi global penuh konflik dan fragmentasi geoekonomi yang sangat tidak menguntungkan. Di saat yang sama, COP31 dinilai perlu memastikan aksi iklim berjalan secara adil, bukan sekadar meningkatkan ambisi.  

“Mudah-mudahan, Turkiye dan Australia bisa menjadi host yang benar-benar fair,” ujar Tri. 

Yang jelas kata dia, delegasi Indonesia mendorong hasil COP31 yang implementatif, seimbang, dan berkeadilan. “Keberhasilan COP31 tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ambisi yang disepakati, tapi juga apakah ambisi tersebut dapat dilaksanakan secara adil, didukung pendanaan dan teknologi yang nyata.”