Sabtu, 24 Oktober 2026 - 18:30 WIB
Paris, VIVA –Prancis meningkatkan pengamanan menjelang gelombang demonstrasi nasional pada hari ini Sabtu (24/10). Aksi ini berlangsung sepekan setelah negara tersebut dilanda kerusuhan besar yang menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga
Pemerintah memberlakukan pembatasan ketat terhadap aksi demonstrasi di berbagai wilayah Prancis. Meski demikian, ratusan ribu orang diperkirakan tetap turun ke jalan di Paris dan sejumlah kota lainnya. Aksi kali ini merupakan gelombang demonstrasi kedua yang digerakkan oleh mahasiswa, serikat pekerja, serta berbagai kelompok yang menentang pemerintah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan akan mengerahkan 70.000 personel polisi untuk memperketat keamanan di berbagai kota. Langkah ini diambil setelah partai-partai oposisi menuding pemerintah gagal memperkirakan besarnya kerusuhan yang terjadi pada 17 Oktober.
Baca Juga
"Kami tidak akan membiarkan satu pun pelanggaran berlalu begitu saja," kata Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez dikutip dari laman BBC Internasional, Sabtu (24/10/2026).
Ia menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap pelaku perusakan, penjarahan, dan segala bentuk kekerasan. Nuñez juga menjelaskan bahwa, di luar rencana demonstrasi, sejumlah seruan untuk melakukan kekerasan beredar di media sosial dan diduga berasal dari kelompok kiri jauh serta kelompok ekstrem kiri radikal.
Baca Juga
Dalam beberapa hari terakhir, ratusan orang telah dijatuhi hukuman penjara melalui persidangan yang dipercepat. Mereka dinyatakan terlibat dalam berbagai tindak pidana, termasuk perusakan, pembakaran, dan penjarahan.
Kekecewaan masyarakat Prancis terhadap pemerintah semakin besar. Warga menghadapi kenaikan biaya hidup, sementara berbagai peringatan menyebut pemerintahan mendatang kemungkinan harus melakukan pemangkasan anggaran belanja dalam skala besar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Aksi protes awalnya dipicu oleh tuntutan para pelajar sekolah menengah atas (SMA) agar pemerintah memperbaiki kondisi sekolah dan mengatasi kekurangan tenaga pengajar serta staf. Namun, demonstrasi di sejumlah tempat kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan.
Sebelum aksi demo lanjutan digelar hari ini, Presiden Emmanuel Macron bertemu dengan perwakilan pelajar SMA pada Jumat. Para perwakilan pelajar mengatakan Macron telah menyampaikan komitmen yang jelas untuk memenuhi tuntutan mereka. Meski demikian, mereka menegaskan para pelajar harus tetap melanjutkan mobilisasi.
Halaman Selanjutnya
Penasihat Macron mengatakan kepada stasiun televisi Prancis bahwa pemerintah akan mengumumkan sejumlah komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan SMA mulai Senin.