REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Pradi Supriatna mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Jika sebelumnya informasi harus melalui berbagai tahapan, kini beragam informasi dapat diakses melalui perangkat yang berada dalam genggaman.
“Dari yang awalnya berproses, sekarang informasi sudah ada di genggaman tangan. Apa pun bisa dilihat. Oleh karena itu, betapa pentingnya kita memberikan literasi kepada masyarakat, apalagi kepada anak-anak muda ke depan,” kata Pradi seusai menjadi keynote speaker dalam kegiatan Pemahaman Literasi Media bagi Masyarakat bertema Peningkatan Kualitas SDM Penyiaran melalui Riset 5+1 di Kota Depok, Jumat (18/9/2026).
Menurut Pradi, masyarakat membutuhkan informasi yang valid dan edukatif, sekaligus dapat memperkuat kebersamaan di tengah derasnya arus informasi global. Literasi media semakin penting bagi generasi milenial, generasi Z, hingga generasi Alpha yang sangat dekat dengan teknologi digital dan media sosial.
“Regulasi belum ada, tetapi informasinya sudah sampai. Jangan sampai informasi yang kurang tepat menjadi konsumsi yang kurang sehat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan informasi yang tidak utuh maupun berita palsu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum menerima ataupun menyebarkan informasi.
Pradi mengajak masyarakat menggunakan pendekatan 5W+1H untuk memeriksa informasi, termasuk menelusuri sumber dan tujuan penyebarannya. “Ketika literasi ini sampai dan dipahami, tentu kita bisa memproteksi diri kita sendiri. Misalnya ketika ada informasi di tangan kita, jangan langsung kita share kembali. Cari sumbernya dan pastikan apakah informasi tersebut benar,” katanya.
Selain kabupaten dan kota, Pradi mendorong literasi media masuk ke sekolah, khususnya SMP dan SMA. Menurut dia, sekolah merupakan ruang strategis untuk membangun kemampuan generasi muda dalam memilah informasi sejak dini.
“Kami sangat mendorong itu, namun tentu perlu dukungan dari sisi anggaran dan lainnya. Kami berharap bisa mulai dari level SMP dan SMA,” tuturnya.
Ia berharap kolaborasi KPID Jabar, pemerintah daerah, DPRD Jabar, dan satuan pendidikan terus diperkuat agar generasi muda memiliki bekal menghadapi perkembangan informasi digital.