Polisi: Pelaku peledakan bom Padang bukan jaringan terorisme

calendar_today 20.07.2026 - person  - timer ~

Padang (ANTARA) - Kepolisian mengonfirmasi bahwa pelaku peledakan bom rakitan di MAN 3 Padang, Sumatera Barat (Sumbar) pada Selasa (14/7) bukan bagian dari jaringan terorisme.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Padang Kompol M Yasin, di Padang, Senin berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya.

"Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa pelaku tidak terindikasi ataupun terafiliasi dengan jaringan terorisme," kata Yasin.

Selain itu, katanya, pelaku R yang masih berstatus sebagai siswa dan berusia 17 tahun itu juga bukan seorang "lonely wolf".

Istilah "lonely wolf" merujuk pada seorang pelaku yang telah terpapar paham radikal, namun merencanakan dan melakukan aksinya sendirian tanpa terikat suatu kelompok.

"Jadi pelaku ini juga bukan sorang " lonely wolf", aksinya melakukan perakitan benda yang dapat meledak itu murni karena rasa ingin tahu," jelasnya.

Ia juga menerangkan alasan pelaku nekad meledakkan benda tersebut di pekarangan sekolahnya sendiri pada Selasa karena kekesalan terhadap seseorang.

Kepada petugas R mengakui kalau dirinya mengalami risak (bullying) baik secara verbal maupun non verbal sejak jenjang sekolah dasar hingga kini duduk di bangku kelas 3 MAN.

Peledakkan bom tersebut ditenggarai sebagai cara pelaku untuk melampiaskan kekesalannya, sekaligus menunjukkan eksistensi dan jati diri di lingkungan pergaulan.

Yasin mengatakan sampai saat ini peristiwa ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang masih terus bergulir di Satreskrim Polresta Padang.

Polisi telah memeriksa dan mengambil keterangan dari para saksi yang terkait dengan kejadian, mulai dari pihak sekolah maupun sejumlah siswa.

"Kami akan menangani kasus ini secara profesional dan mendalam, dengan tetap mempertimbangkan segala aspek yang mungkin mempengaruhi peristiwa," katanya.

Peledakan bom rakitan itu terjadi pada Selasa (14/7) di dalam pekarangan MAN 3 Padang, tepatnya di teras samping kelas.

Tidak ada korban jiwa ataupun kerusakan yang berarti akibat kejadian tersebut, namun suara dentuman yang keras telah mengagetkan dan menimbulkan kepanikan bagi warga sekolah.

Dari pemeriksaan Polisi sejauh ini terungkap bahwa R mempelajari cara membuat benda yang bisa meledak itu dari internet secara otodidak sekitar empat bulan lamanya.

Sedangkan untuk bahan baku dan alat-alat yang diperlukan, R mencarinya di toko daring lalu merakitnya seorang diri.

Perakitan dilakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua maupun keluarga yang lain, lalu disimpan, hingga akhirnya diledakkan pada Selasa (14/7).