Liputan6.com, New Delhi - Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan telah memaafkan para pelajar yang melontarkan makian kepadanya dalam aksi protes bulan lalu. Ia menyebut mereka sebagai anak-anak yang tersesat dan perlu dibimbing ke jalan yang benar, bukan dituntut dan dihukum.
Krisis politik terbesar pada masa jabatan ketiga Modi itu bermula dari meluasnya dukungan terhadap gerakan protes cockroach atau kecoak yang dipelopori kaum muda. Gerakan tersebut muncul pada Mei setelah sebuah ujian penting dibatalkan akibat kebocoran soal. Lebih dari dua juta peserta terpaksa mengikuti ujian ulang pada bulan berikutnya.
Para demonstran menamakan kelompok mereka Cockroach Janta Party atau Partai Rakyat Kecoak setelah Ketua Mahkamah Agung India menyebut pemuda pengangguran dan aktivis sebagai kecoak.
Gerakan itu awalnya hanya berupa kampanye di media sosial yang menyerukan reformasi pendidikan melalui meme yang tersebar luas. Namun, kampanye tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan massa yang menggerakkan puluhan ribu orang di ibu kota New Delhi serta memicu aksi serupa di berbagai kota di India.
Aksi protes akhirnya berakhir setelah pemerintahan Modi menyetujui seluruh tuntutan demonstran, termasuk pengunduran diri menteri pendidikan. Pemerintah juga berjanji tidak akan melanjutkan proses hukum terhadap siapa pun yang mengikuti aksi tersebut.
Namun, meski Modi telah memberikan jaminan itu, aparat di sejumlah negara bagian yang dikuasai Partai Bharatiya Janata atau BJP tetap memproses hukum ratusan demonstran. Sebagian dari mereka terlibat bentrokan dengan aparat keamanan dan meneriakkan slogan berisi makian terhadap perdana menteri.
Para pendukung politik nasionalis Hindu sayap kanan ekstrem yang diusung Modi juga menyebarkan identitas dan data pribadi demonstran perempuan, termasuk mereka yang masih remaja, di media sosial. Para demonstran tersebut mendapat ancaman pemerkosaan dan pembunuhan, sementara pendukung Modi mendesak aparat setempat mengambil tindakan hukum terhadap mereka.
"Mereka adalah anak-anak yang tersesat. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Menghukum mereka, membuat mereka harus bolak-balik ke pengadilan, atau menyiksa mereka di tengah masyarakat tidak akan mengubah keadaan," kata Modi dalam video yang diunggah ke media sosial pada Jumat (31/7) malam.
Ia mengatakan makian menjijikkan telah diarahkan kepada dirinya dan mendiang ibunya selama aksi protes.
"Dari sisi budaya, hal ini sangat mengejutkan bagi kami. Bagaimana mungkin putri-putri kita menggunakan bahasa seperti itu?" katanya, sebelum menambahkan, "Saya ingin memaafkan mereka."