Moskow (ANTARA) - Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengakui Ottawa sepanjang tahun lalu mempersiapkan rencana kontingensi atas "risiko ekstrem" dari aksi militer Amerika Serikat ke negaranya, termasuk ancaman invasi militer.
Saat ditanya seserius apa Ottawa merespons ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menjadikan Kanada sebagai "negara bagian ke-51", Carney berkata kepada The New York Times bahwa pihaknya terus memantau kemungkinan invasi AS selama setahun belakangan.
"Saya pikir kami punya tanggung jawab dalam posisi ini untuk mengkaji risiko paling ekstrem ... sekadar manajemen risiko. Memang itu bukan skenario dasarnya, tetapi kalau tidak dilakukan tentu kami jadi tidak bertanggung jawab," kata Carney dalam wawancara yang dirilis Rabu.
Menurut PM Kanada, langkah pihaknya mempersiapkan risiko terburuk itu membuat Ottawa berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap Washington.
Kanada berencana meninggalkan sepenuhnya sistem komunikasi satelit Starlink dari Elon Musk serta mengkaji ulang kontrak pembelian 88 unit jet tempur F-35 buatan AS untuk diganti dengan pesawat buatan Eropa, seperti dari produsen Swedia Saab Gripen, dalam rangka menjaga kawasan Arktika.
Hubungan antar Kanada dan AS dalam beberapa waktu terakhir ditandai dengan ketegangan dagang serta ancaman Donald Trump terhadap kedaulatan Kanada.
Dalam beberapa kesempatan, Trump berkata ingin menjadikan negara tetangganya itu sebagai "negara bagian ke-51" AS. Gagasan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Carney.
Adapun baru-baru ini, Trump memutuskan mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika. Danau tersebut memisahkan negara bagian New York di AS dengan provinsi Ontario di Kanada.
Danau Ontario merupakan bagian dari rangkaian perairan "Great Lakes" yang membentuk perbatasan AS-Kanada. PM Carney menegaskan bahwa Ottawa akan tetap menggunakan nama "Danau Ontario".
Sumber: Sputnik
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.