PLTS Salip PLTU di Cina, Tapi Listrik Bersih Banyak Tak Terserap, Kenapa? - Energi Baru Katadata.co.id

calendar_today 01.09.2026 - person  - timer ~

Pembangkit berbasis nonfosil semakin mendominasi sistem ketenagalistrikan Cina. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) diperkirakan akan melampaui kapasitas pembangkit listrik tenaga uang (PLTU) batu bara pada akhir tahun ini.

China Electricity Council (CEC) memperkirakan tren pembangunan energi terbarukan akan terus berlanjut. Cina diproyeksikan menambah lebih dari 400 juta kW kapasitas pembangkit baru, dengan lebih dari 300 juta kW berasal dari energi baru dan terbarukan.

Pada akhir 2026, kapasitas PLTS dan pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) secara gabungan diperkirakan mencapai separuh dari total kapasitas pembangkit listrik Cina.

Sedangkan merujuk pada data National Energy Administration (NEA), kapasitas pembangkit listrik Cina mencapai 3,96 miliar kW pada akhir Maret 2026. Kapasitas PLTS terpasang 1,24 miliar kW, sedangkan PLTB sekitar 655 juta kW.

Meski begitu, batu bara masih menjadi sumber utama pasokan listrik Cina. Penyebabnya antara lain karena sebagian listrik dari pembangkit energi terbarukan tak terserap sistem.

Sebagian Listrik Energi Terbarukan Tak Terserap, Ada Apa?

Meski kapasitas pembangkit nonfosil terus meningkat, Cina menghadapi tantangan untuk menyerap seluruh produksi listriknya. Menurut para analis, keterbatasan infrastruktur transmisi dan kontrak pasokan yang menjamin pengoperasian PLTU batu bara baru turut menyebabkan produksi energi terbarukan yang melimpah tidak terserap jaringan.

Laporan Global Energy Monitor (GEM) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirilis Agustus lalu memperkirakan Cina tidak dapat menyalurkan sekitar 360 terawatt-jam (TWh) listrik bersih ke jaringan sepanjang Januari-Juni 2026. Jumlah tersebut naik 49 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

GEM-CREA memperkirakan listrik yang tak terserap jaringan atau tingkat curtailment gabungan PLTS dan PLTB mencapai 26,1 persen. Angka ini melampaui data National Energy Administration (NEA), yang mencatat tingkat curtailment sekitar 8,6 persen untuk PLTS dan 9,1 persen untuk PLTB.

Curtailment di Cina bersifat struktural, bukan hambatan sementara. Kami memperkirakan tekanan curtailment akan berlanjut hingga akhir dekade ini,” kata Analis Wood Mackenzie Yuan Ren, seperti dikutip Reuters, tengah Agustus lalu. 

Memburuknya curtailment dilaporkan telah menyulitkan investor dalam menilai kelayakan finansial proyek energi terbarukan.

Menurut Ren, investasi energi bersih kini mulai bergeser dari proyek PLTS yang berdiri sendiri menuju proyek PLTS yang dilengkapi sistem penyimpanan energi. Pergeseran ini dilakukan untuk mengurangi risiko listrik yang dihasilkan tidak terserap jaringan.