PLN EPI resmikan TJSL TPS3R di kawasan PLTMGU Lombok Peaker Mataram

calendar_today 10.09.2026 - person  - timer ~

"PLN tentu bekerja sama dengan Pemerintah Kota Mataram untuk bersama-sama menanggulangi sampah. Ini salah satu wujud nyata kolaborasi PLN EPI dengan Pemerintah Kota Mataram,"

Mataram (ANTARA) - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R) di kawasan Project Gasifikasi PLTMGU Lombok Peaker, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

PLN EPI meresmikan program tersebut pada Kamis (10/9). Program ini menjadi bagian dari kolaborasi PLN EPI dan Pemerintah Kota Mataram untuk mengurangi volume sampah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengatakan pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat menangani persoalan sampah seorang diri.

"PLN tentu bekerja sama dengan Pemerintah Kota Mataram untuk bersama-sama menanggulangi sampah. Ini salah satu wujud nyata kolaborasi PLN EPI dengan Pemerintah Kota Mataram," katanya.

Ia mengatakan peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi masyarakat membuat persoalan sampah semakin kompleks. Karena itu, masyarakat perlu mengelola sampah agar tidak hanya menjadi beban lingkungan.

PLN EPI tidak hanya membangun fasilitas TPS3R. Perusahaan juga memberikan pelatihan kepada masyarakat yang akan mengelola fasilitas tersebut.

"Untuk pembangunan dari sisi lokasi ini kemudian juga pelatihan bersama masyarakat sekitar. Kita harus memastikan bahwa program ini akan sustain. Harapannya tidak hanya sekali membangun kemudian selesai, tetapi ada kesinambungan dengan masyarakat," ujarnya.

Menurut Erma, pemilihan kawasan Lombok Peaker sebagai lokasi program juga berkaitan dengan pengembangan pembangkit tersebut. PLTMGU Lombok Peaker ke depan akan beralih dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menuju gas.

Peralihan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembangkit yang lebih ramah lingkungan. Program TPS3R kemudian memperkuat aspek pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan pembangkit.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Mataram, Lalu Martawang mengapresiasi dukungan PLN EPI dalam membantu pemerintah menangani persoalan sampah.

Ia mengatakan Kota Mataram menghadapi keterbatasan kapasitas pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongok. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengubah pola pengelolaan sampah dari sekadar kumpul, angkut, dan buang.

"Kita lebih dari itu sekarang. Sampah diambil, diproses menjadi komoditas yang memiliki produktivitas," ucapnya.

Menurutnya, TPS3R dan maggot center dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Fasilitas tersebut mendorong warga memilah sampah sejak dari sumbernya.

Masyarakat dapat memilah sampah plastik dan anorganik berdasarkan jenisnya. Sementara itu, sampah organik seperti sisa makanan dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot.

Pola tersebut dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA Kebon Kongok. Pada saat yang sama, pengolahan sampah dapat menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Martawang mengatakan pengelolaan sampah juga berkaitan dengan penataan kawasan sekitar Lombok Peaker. Salah satunya rencana penataan 43 pedagang kaki lima (PKL) di kawasan pinggir pantai.

Sebagian besar PKL tersebut menjual makanan sehingga menghasilkan sampah organik. TPS3R dapat mengolah limbah makanan tersebut agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.

"Core-nya PKL ini adalah makanan. Kalau tidak diintervensi, makanan ini akan menjadi limbah yang sangat banyak yang harus kita buang ke Kebon Kongok. Dengan yang sekarang diresmikan ini, kita bisa mengintervensinya menjadi sesuatu yang produktif," katanya.

Ketua TPS3R Tanjung Karang Permai, Ridwan mengatakan fasilitas tersebut telah menerima sampah dari sejumlah sumber di sekitar kawasan.

Salah satunya berasal dari 43 warung di kawasan wisata Pantai Viral, Bagik Kembar. Pengelola kemudian memilah sampah organik dan anorganik.

Pengelola memanfaatkan sampah organik untuk budidaya maggot. Sementara itu, sampah anorganik dipilah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

TPS3R juga menerima sampah dari lingkungan sekitar. Petugas mengangkut sampah menggunakan kendaraan operasional sebelum melakukan pemilahan di fasilitas TPS3R.

Ridwan mengatakan program tersebut mulai memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar.

"Ekonominya sangat luar biasa. Sudah ada mata pencaharian baru untuk warga, khususnya masyarakat di lingkungan Bagik Kembar," katanya.

Saat ini, pengelolaan sampah di kawasan Pantai Viral melibatkan sekitar 10 orang yang mendapatkan upah dari kegiatan tersebut.

TPS3R juga mulai menerima limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sejumlah sekolah di sekitar lokasi.

Ridwan mengatakan PLN memberikan pelatihan kepada masyarakat sebelum pengelolaan TPS3R berjalan.

"Sudah ada pelatihan dari PLN. Sebelum ini kita ada pelatihan dulu, baru kita mulai bergerak," ujarnya.

Pewarta : Awaludin
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026