Ketika berbicara tentang kebakaran gambut, perhatian kita biasanya tertuju pada api: bagaimana memadamkannya, siapa yang harus bertanggung jawab, dan bagaimana mencegah penjalaran api dalam gambut. Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: mengapa lahan gambut mudah terbakar?
Pada lahan gambut yang telah terdegradasi karena drainase, dan tidak dikelola, vegetasi dominan adalah tumbuhan pakis. Tanaman ini menjadi bahan bakar ketika musim kemarau tiba. Risiko lahan gambut terbuka yang ditumbuhi pakis adalah berulang kali terbakar.
Karena itu, pencegahan kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan dengan pemadaman dan patroli. Kita perlu memikirkan bagaimana mengubah lahan yang mudah terbakar menjadi lahan yang memiliki tutupan vegetasi, dikelola masyarakat, dan memberikan manfaat ekonomi.
Pisang dapat menjadi tanaman pilihan untuk mencegah kebakaran. Apalagi Indonesia memiliki keragaman pisang yang sangat tinggi. Menurut BRIN terdapat lebih dari 200 varietas lokal pisang yang dibudidayakan di Indonesia.
Pisang juga mudah diperbanyak secara vegetatif dan menghasilkan anakan dengan cepat. Karakter tersebut membuat pisang menarik sebagai salah satu kandidat tanaman untuk revegetasi pada lahan yang sesuai.
Pertama, pisang dapat membentuk tutupan vegetasi relatif cepat. Tanaman yang hidup dan berdaun hijau memiliki kandungan air yang tinggi sehingga relatif kurang mudah terbakar dibandingkan biomassa vegetasi yang telah mengering.
Kedua, tajuk pisang dapat memberikan naungan pada permukaan tanah. Berkurangnya cahaya yang mencapai permukaan dapat berpotensi menghambat pertumbuhan sebagian vegetasi bawah, termasuk tumbuhan yang mendominasi lahan terbuka. Dengan demikian, penanaman pisang perlu diuji apakah dapat membantu mengurangi dominasi pakis pada lahan gambut yang terdegradasi.
Ketiga, pisang bukan hanya tanaman penutup. Buahnya mempunyai nilai ekonomi dan dapat dipanen masyarakat. Ini penting karena strategi pencegahan kebakaran di lahan yang luas tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kegiatan yang membutuhkan tenaga kerja dan biaya besar tanpa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Namun, pisang bukanlah obat untuk semua persoalan gambut. Pisang tidak dapat menggantikan pembasahan kembali gambut. Tata air tetap merupakan fondasi utama untuk mengurangi kekeringan gambut dan risiko kebakaran.
Penanaman pisang juga tidak tepat diterapkan secara seragam pada seluruh ekosistem gambut. Kawasan hutan gambut yang masih memiliki fungsi konservasi tinggi harus dikelola dengan pendekatan restorasi yang mempertahankan karakter ekosistem alaminya.
Pisang lebih tepat dilihat sebagai salah satu pilihan revegetasi produktif pada lahan gambut yang telah terdegradasi dan terbuka. Terutama, pada areal penggunaan lain (APL) yang memang sesuai untuk pemanfaatan masyarakat.
Gagasan ini juga perlu dibuktikan melalui penelitian lapangan. Kita perlu mengetahui jenis dan varietas pisang yang paling sesuai, kepadatan tanaman, kebutuhan air, produktivitas, dan kemampuan menekan pertumbuhan pakis. Begitu juga, apakah perubahan tutupan vegetasi tersebut benar-benar dapat mengurangi risiko kebakaran. Uji coba juga perlu membandingkan pisang dengan tanaman revegetasi lainnya.
Pendekatan semacam ini menjadi semakin penting karena luas lahan gambut terdegradasi jauh lebih besar daripada kemampuan tenaga kerja masyarakat untuk mengelolanya secara intensif. Tanaman semusim seperti sayuran dapat memberikan pendapatan dalam waktu relatif singkat, tetapi membutuhkan pengelolaan rutin.
Tanaman tahunan dapat mencakup areal lebih luas, tetapi membutuhkan waktu lebih lama sebelum menghasilkan pendapatan. Karena itu, diperlukan kombinasi tanaman dan strategi pengelolaan yang sesuai dengan kapasitas masyarakat dan karakter lahannya.
Rencana Pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) yang dicanangkan Presiden Prabowo pada 24 September 2026 memberikan momentum untuk memperkuat pendekatan tersebut. Pencegahan kebakaran seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana memadamkan api, tetapi bergerak ke pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana membuat lahan gambut terdegradasi tidak mudah terbakar kembali?
Menutup kanal, menjaga muka air tanah, melindungi hutan gambut, mengendalikan sumber api, dan memperkuat partisipasi masyarakat tetap diperlukan. Tetapi pada lahan yang sudah terbuka dan terdegradasi, kita juga membutuhkan strategi revegetasi yang cepat, realistis, dan memberikan manfaat ekonomi.
Pisang mungkin bukan solusi tunggal. Namun, dengan keragaman lokal yang tinggi, kemampuan berkembang secara vegetatif, dan nilai ekonomi bagi masyarakat, pisang layak diuji sebagai salah satu bagian dari strategi untuk mengurangi dominasi vegetasi mudah terbakar. Dengan demikian dapat mencegah kebakaran berulang pada lahan gambut terdegradasi.
Kadang-kadang, solusi untuk persoalan besar tidak selalu harus berupa teknologi yang rumit. Bisa jadi, sebagian jawabannya tumbuh sederhana di sekitar kita.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.