PISA sebagai cermin, bukan tujuan pendidikan - ANTARA News Jawa Timur

calendar_today 14.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Setiap kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) diumumkan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada peringkat. Ketika posisi Indonesia masih berada di bagian bawah, kita prihatin dan kemudian mencari penyebabnya; kurikulum, guru, sekolah, asesmen, fasilitas, atau kebijakan pendidikan.

Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 kembali memberikan alasan untuk melakukan refleksi. Capaian murid Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains masih berada di bawah rata-rata internasional. Terlalu banyak murid usia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum yang diperlukan untuk menggunakan kemampuan tersebut secara fungsional.

Namun, barangkali kita terlalu sibuk memperhatikan angka yang tampak di cermin dan kurang memperhatikan apa yang sebenarnya dicerminkan oleh angka tersebut. PISA seharusnya tidak diperlakukan sebagai tujuan pendidikan. PISA adalah salah satu cermin untuk melihat kualitas kompetensi yang dihasilkan pendidikan kita.

Pertanyaan yang lebih penting bukan “Bagaimana menaikkan peringkat PISA?”. Melainkan: “Apa yang perlu kita perbaiki dalam pendidikan setelah melihat bayangan kita di cermin tersebut?”

Apa yang dicerminkan PISA? PISA memiliki nilai penting karena yang diukur bukan sekadar apakah murid pernah mempelajari suatu materi.

PISA lebih menekankan kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi persoalan. Perbedaan antara mengetahui dan mampu menggunakan pengetahuan inilah yang perlu kita renungkan.

Seorang murid mungkin telah mempelajari perubahan iklim dan dapat menjelaskan definisinya. Tetapi apakah ia mampu membaca data, mengevaluasi bukti ilmiah, membedakan informasi yang dapat dipercaya dari yang menyesatkan, dan menggunakan pengetahuannya untuk mengambil keputusan?

Dalam matematika, murid mungkin mampu menyelesaikan soal rutin yang bentuknya sudah dikenal. Tetapi apakah ia dapat mengenali persoalan kehidupan yang dapat direpresentasikan secara matematis, memilih strategi penyelesaian, menggunakan data, dan menilai apakah jawabannya masuk akal?

Dengan demikian, PISA memberikan cermin terhadap satu persoalan mendasar: Apakah pendidikan kita menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan.

Selama ini, pembelajaran terlalu sering dinilai dari apakah materi telah diajarkan dan apakah murid dapat menjawab soal. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa yang benar-benar mampu dilakukan murid dengan apa yang telah dipelajarinya?

Memperbaiki cermin

Karena hasil PISA kurang menggembirakan, kita jangan sampai melakukan kesalahan dengan hanya "memperbaiki cermin". Memperbanyak latihan soal PISA, membuat bank soal yang menyerupai PISA, atau melatih murid menghadapi format tes tertentu mungkin dapat membantu mereka menjadi lebih akrab dengan asesmen.

Upaya itu bukan perbaikan pendidikan yang sesungguhnya. Hal yang harus diperbaiki adalah kemampuan yang dicerminkan oleh PISA, bukan cerminnya.

Ada perbedaan mendasar antara melatih murid mengerjakan soal PISA dan membangun kemampuan membaca, bernalar, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang diukur PISA.

Hal yang pertama berisiko melahirkan "teaching to the test". Hal yang kedua memperbaiki kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, PISA tidak boleh menjadi kurikulum.

Metafora cermin juga mengingatkan kita pada keterbatasan PISA. Sebuah cermin hanya memperlihatkan bagian tertentu dari diri kita. Demikian pula PISA. Alat itu hanya mengukur sebagian dari kemampuan manusia yang hendak dibentuk melalui pendidikan.

PISA terutama memberikan informasi tentang kompetensi dalam membaca, matematika, dan sains. Pendidikan Indonesia memiliki tujuan yang jauh lebih luas. Kita juga menghendaki lulusan yang memiliki keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Oleh karena itu, 8 Dimensi Profil Lulusan tidak dapat direduksi menjadi skor PISA.

Pendidikan Indonesia harus tetap berakar pada tujuan nasional, nilai-nilai bangsa, dan kebutuhan masyarakat Indonesia, sekaligus menggunakan hasil asesmen internasional sebagai standar untuk mengetahui apakah kompetensi murid kita mampu berdiri sejajar dengan masyarakat dunia.

Pertanyaan berikutnya adalah: Jika PISA merupakan cermin, apa yang harus kita lakukan setelah melihat hasilnya? Salah satu jawabannya adalah memperkuat orientasi pembelajaran dari materi menuju kompetensi yang dapat digunakan. Pengetahuan tetap penting. Tidak mungkin seseorang bernalar tanpa pengetahuan. Namun, pengetahuan tidak boleh menjadi tujuan akhir pembelajaran.

Dalam konteks ini, Pembelajaran Mendalam menawarkan arah yang relevan. Pengalaman belajar diarahkan melalui langkah memahami, mengaplikasi, merefleksi. Jika pembelajaran berhenti pada memahami, murid mungkin mampu menjelaskan konsep. Ketika diberi persoalan yang berbeda, ia belum tentu mampu menggunakannya. Oleh karena itu, mengaplikasi menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan.

Murid perlu berulang kali menggunakan pengetahuannya dalam konteks yang beragam, termasuk konteks yang belum pernah mereka temui. Selanjutnya, merefleksi membuat murid mampu menilai proses berpikirnya sendiri; mengapa jawabannya benar atau salah, bukti apa yang dapat dipercaya, strategi apa yang efektif, dan apa makna pengetahuan bagi kehidupan.

Pembelajaran seperti inilah yang pada akhirnya akan membangun kemampuan yang tercermin dalam PISA tanpa harus menjadikannya sebagai tujuan pembelajaran.

Kompetensi esensial

Hasil PISA juga menunjukkan pentingnya memperkuat sejumlah kompetensi esensial lintas disiplin. Membaca untuk memahami bukan hanya tanggung jawab guru Bahasa Indonesia. Kemampuan tersebut diperlukan ketika murid membaca soal matematika, memahami penjelasan sains, menafsirkan informasi sosial, maupun mengevaluasi informasi digital.

Penalaran matematis bukan sekadar berhitung. Ia diperlukan untuk membaca data, mengenali pola, membandingkan pilihan, dan mengambil keputusan. Penalaran ilmiah juga bukan sekadar menghafal konsep IPA. Ia mencakup kemampuan menggunakan bukti, mengajukan pertanyaan, mengevaluasi penjelasan, dan menilai apakah suatu klaim didukung bukti.

Oleh karena itu, kompetensi-kompetensi tersebut harus dibangun melalui berbagai mata pelajaran, bukan dibebankan kepada satu mata pelajaran tertentu saja. Hasil PISA 2025 seharusnya tidak membuat kita panik. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap apa yang ditunjukkannya.

PISA memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk melihat pendidikan kita dari perspektif eksternal. Tetapi setelah melihat cermin, pekerjaan kita bukan mempercantik bayangan.
Pekerjaan kita adalah memperbaiki kenyataan yang menghasilkan bayangan tersebut.

Oleh karena itu, pertanyaan Indonesia tidak seharusnya: "Bagaimana agar peringkat PISA kita naik?" Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Bagaimana memastikan setiap anak Indonesia mampu membaca untuk memahami, bernalar dengan matematika, berpikir secara ilmiah, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan?"

*) Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, anggota Dewan Pendidikan Nasional

Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.