Liputan6.com, Jakarta - Serangkaian laporan mengenai serangan rudal di Riyadh menimbulkan kekhawatiran menjelang pelaksanaan Piala Asia 2027.
Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan menimbulkan pertanyaan soal keselamatan selama turnamen.
Situasi konflik di wilayah itu menempatkan keselamatan pemain, suporter, ofisial, dan pekerja sebagai isu utama yang harus dipantau oleh penyelenggara dan federasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5668012/original/055476600_1778386934-WhatsApp_Image_2026-05-10_at_11.04.05_AM.jpeg)
Perbesar
Riyadh diposisikan sebagai pusat penyelenggaraan Piala Asia 2027 dengan 31 pertandingan yang akan berlangsung di ibu kota tersebut, termasuk laga pembuka dan final.
Laga pembuka dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari 2027 dengan tuan rumah Arab Saudi menghadapi Palestina, sementara partai penutup turnamen direncanakan pada 5 Februari 2027.
Kota Al Khobar di wilayah timur juga disiapkan sebagai salah satu tuan rumah; kota itu akan menggelar tujuh pertandingan, termasuk laga Australia melawan Singapura pada 9 Januari 2027.
Dengan jadwal dan penyebaran pertandingan tersebut, persiapan turnamen tak sekadar kesiapan stadion dan infrastruktur, tetapi juga menuntut kemampuan otoritas untuk menjamin keamanan semua pihak yang hadir.
FIFpro Asia/Oceania, organisasi yang mewakili kepentingan pesepak bola profesional, menyuarakan keprihatinan soal kondisi keamanan menjelang turnamen.
Presidennya, Beau Busch, menyampaikan simpati kepada masyarakat yang terdampak konflik dan menegaskan posisi organisasi soal prioritas keselamatan pemain.
"Keselamatan pemain, suporter, dan staf harus menjadi prioritas serta pertimbangan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan Piala Asia AFC," ujar Busch.
Busch, yang juga menjabat CEO Professional Footballers Australia, mengatakan penilaian risiko akan dimasukkan dalam persiapan, termasuk sebelum setiap pemusatan latihan, dan akan terus dipantau mengingat situasi dapat berubah sewaktu-waktu.
"Penilaian risiko dilakukan sebelum setiap pemusatan latihan dan akan terus menjadi hal yang sangat penting menjelang Piala Asia, mengingat situasi keamanan di kawasan ini terus berubah," katanya.
FIFpro dan PFA akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perlindungan serta kesejahteraan pemain menjelang turnamen dan agenda pertandingan internasional pada November.
Football Australia menyatakan terus memantau perkembangan keamanan di Arab Saudi dan menegaskan keselamatan serta kesejahteraan pemain, staf, dan suporter menjadi perhatian utama federasi itu.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
Keputusan terkait perjalanan Timnas Australia juga akan mempertimbangkan rekomendasi pemerintah, termasuk arahan resmi yang diterbitkan kepada warga negara mereka. Pemerintah Australia, melalui laman Smartraveller, masih menyarankan warganya untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan bepergian ke Arab Saudi secara keseluruhan karena situasi keamanan. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Jepang memilih menarik diri dari FIFAe World Cup yang dijadwalkan berlangsung di Arab Saudi pada Oktober 2026 setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keselamatan di negara tuan rumah. Langkah Jepang menjadi sinyal bahwa perkembangan situasi keamanan telah memengaruhi partisipasi dan penyelenggaraan beberapa agenda olahraga internasional di Arab Saudi.