Istanbul (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran sedang menghadapi “kondisi terburuk” dalam perang ekonomi sembari menegaskan bahwa negaranya tetap menjalankan berbagai proyek pembangunan meski berada di bawah tekanan yang semakin besar.
“Meskipun kita sedang menghadapi kondisi terburuk dalam perang ekonomi, semua orang melihat perang rudal, tetapi mungkin tidak semua orang melihat tekanan ekonomi. Meski demikian, pekerjaan terus berjalan, dan hal ini patut diapresiasi,” kata Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan Iranian Students’ News Agency (ISNA).
Pezeshkian memuji pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian proyek tersebut. Menurutnya, pencapaian itu menjadi sangat berarti mengingat tekanan dan konflik yang sedang dihadapi Iran.
“Mungkin dalam kondisi normal kita tidak akan mampu mencapai sebanyak ini,” ucapnya.
Presiden Iran tersebut mengatakan negaranya dapat mencapai hasil yang lebih baik melalui dukungan masyarakat, peningkatan akuntabilitas para pejabat, serta keterlibatan yang lebih besar dari dunia usaha dan investor.
“Saya yakin kita dapat bekerja jauh lebih baik. Dengan solidaritas dan dukungan rakyat, akuntabilitas para pejabat, serta partisipasi sektor swasta dan investor, kita dapat dengan cepat mengatasi berbagai persoalan negara,” tambahnya.
Adapun Amerika Serikat menarik diri pada 2018 dari kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia, kemudian memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran melalui kampanye yang disebut sebagai “tekanan maksimum.”
Sejak saat itu, Washington memperluas berbagai langkah yang menargetkan ekspor minyak Iran, sektor keuangan, serta jaringan perdagangan internasional negara tersebut.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Iran: AS tidak akan capai tujuan lewat perang ekonomi
Baca juga: Iran akan gunakan segala cara hadapi tekanan ekonomi AS
Baca juga: China peringatkan soal sanksi sepihak AS "cekik ekonomi" Iran
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.