Minggu, 23 Agustus 2026 17:41 WIB
Petani merawat tanaman bawang merah di ladang seluas 200 hetare di Dusun Bulak Bungkus, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (20/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Yogyakarta (ANTARA) - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memanfaatkan sejumlah teknologi pertanian untuk mempermudah penggarapan lahan bawang merah seluas 200 hektare.
Ketua Gapoktan Kalurahan Parangtritis Kadiso di Bantul, Minggu, mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut salah satunya diterapkan pada sistem penyiraman tanaman bawang merah melalui elektrifikasi.
"Jadi dengan menggunakan pompa listrik," katanya.
Ia menilai penggunaan teknologi tersebut dapat memperingan pekerjaan petani sekaligus menekan biaya penyiraman sehingga meningkatkan keuntungan petani.
"Efisiensi biaya penyiraman bisa tertekan sebesar 88 persen dibanding dengan pompa Bahan Bakar Minyak (BBM)," ujarnya.
Selain diterapkan pada sistem penyiraman, menurut dia, elektrifikasi juga dimanfaatkan petani untuk memasang light trap sebagai sarana pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan serta relatif murah.
Light trap merupakan alat perangkap hama yang menggunakan cahaya lampu dan dipasang di lahan bawang merah untuk menarik serta menjebak hama sebelum bertelur pada tanaman.
"Light trap ini efektif sekali," katanya.
Ia mengatakan pemanfaatan teknologi lainnya berupa penggunaan pesawat nirawak atau drone untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dinilai efektif, hemat, terutama dalam meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
"Akan tetapi drone tadi yang diterbangkan itu biasa dipinjam dari Maksitani, harapannya bisa punya drone sendiri," ujarnya.
Para petani bawang merah di kawasan tersebut juga menerapkan pola tanam serentak yang di beberapa bagian lahannya dikombinasikan dengan sistem tumpang sari.
"Jadi kalau di sini ada bawang merah, semua bawang merah, tidak ada tanaman lain kecuali tanaman tumpangsari cabai," katanya.
Dengan perpaduan pemanfaatan teknologi dan penerapan sistem pertanian tersebut, para petani dapat memperoleh hasil panen yang optimal dengan rata-rata produksi mencapai 21 ton bawang merah per hektare.
"Sebanyak 21 ton itu sudah bersih, sudah dikemas, tidak ada daun dan akar, sedangkan total lahan di sini 200 hektare, tinggal dikalikan," ujarnya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026