Pestapora 2026: Dari Beside hingga Syahrini - Pophariini

calendar_today 29.09.2026 - person  - timer ~

Sejak diadakan pertama kali pada 2022 lalu, Pophariini belum pernah absen sekalipun dalam melakukan peliputan di Pestapora garapan Boss Creator. Bisa dibilang, kami menjadi saksi bagaimana festival ini berjalan selama lima edisi terakhir, dengan semua perkembangannya.

Kami ingat di kemunculan perdananya, Pestapora jadi angin segar festival musik pascapandemi Covid-19. Jika melihat dari berbagai sumber di internet, tercatat Pestapora 2022 dihadiri lebih dari 70.000 penonton dengan menampilkan lebih dari 170 penampil. Keriaan itu pun terus berlanjut ke tahun-tahun selanjutnya.

Sampai di tahun 2025, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam festival ini. Menengok kembali, meninggalnya Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 setelah menjadi korban dalam insiden demonstrasi di Jakarta membuat kondisi Jakarta saat itu diselimuti duka yang berujung pada aksi demo di mana-mana. Kondisi tersebut membuat pihak Boss Creator melakukan penyesuaian terhadap jadwal Pestapora 2025, dengan festival dimulai lebih pagi dan berakhir lebih awal.

Tahun ini, Pestapora kembali pada waktu regulernya dan, seperti biasa, festival ini tetap mendatangkan massa dengan jumlah masif, bahkan sejak awal gerbang dibuka pukul 14.00 WIB. Sejauh ini, belum ada info valid tentang seberapa banyak pengunjung yang hadir selama 3 hari. Yang jelas, suasana di area Gambir Expo akhir pekan kemarin selalu ramai manusia di semua area.

Berikut rangkuman apa saja yang kami alami di Pestapora 2026 selama 3 hari.

Hari pertama Pestapora 2026

Begitu sampai di area Gambir Expo, saya langsung melihat rundown untuk mencari penampil yang seru ditonton siang-siang. Tidak disangka-sangka, saya menemukan bahwa Beside ternyata jadi penampil yang membuka panggung Klab Klub Stage. Sebuah pengalaman yang cukup tak biasa untuk menyaksikan band seintens Beside untuk mengawali pengalaman ber-Pestapora.

Setelah itu, saya dan tim Pophariini beranjak ke Hingar Bingar Stage yang saat itu sedang ada penampilan dari Million Hope asal Padang. Di hari itu, mereka berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Ardhito Pramono, di mana keduanya membawakan lagu satu sama lain. Million Hope pun merasa terhormat bisa melakukan penampilan mereka di panggung ini bersama musisi yang juga tergabung di Wijaya 80 tersebut.

Salah satu highlight di hari pertama adalah Pee Wee Gaskins yang saat itu memutuskan untuk membawakan album A Youth Not Wasted di Sat Set Stage. Momen ini tentu bukan tanpa sebab, sebab album ketiga Pee Wee Gaskins tersebut memasuki usia ke-10 tahun ini. Nostalgia dari para milenial yang saat album ini rilis masih berusia sekitar 18 tahun pun tak terbendung. Kor massal pun terdengar menyanyikan nomor-nomor dari album yang jarang dibawakan seperti “Kertas Dan Pena”, “Here To Stay”, “YAIGS (You and I Going South)”, dan lain-lain. Mungkin setelah ini para Dorks yang besar dengan album A Youth Not Wasted boleh berharap untuk reissue, atau mungkin showcase khusus album tersebut seperti yang pernah mereka lakukan untuk album-album sebelumnya. Semoga suatu hari ya.

Kolaborasi seru lainnya terjadi di Soundroom Stage, yaitu Black Horses dan Mister Nobody. Sebagai penggemar album soundtrack film Judgement Night yang di tahun 90-an mendobrak ‘norma’ dengan menggabungkan sejumlah nama di ranah rock dengan musisi hip-hop, kolaborasi ini tentu pantang untuk saya lewatkan. Distorsi liar yang dihadirkan Black Horses berhasil direspons dengan rima-rima berbahaya dari Mister Nobody, tentunya diiringi dentuman magis dari DJ yang mengiringinya. Suasana Soundroom Stage malam itu pun jadi kombinasi antara pesta rock n roll dengan sisi funky yang tak kalah pekat.

Hal yang disayangkan di hari pertama adalah kami harus melewatkan penampilan Teenage Jazz Star. Setelah melihat unggahan banyak orang di media sosial ketika hari berakhir, ternyata konsep yang diusung benar-benar menyebalkan, namun tetap khas Teenage Death Star. Konsepnya adalah, ternyata para personel memang tak ikut memainkan set mereka dalam versi jazz, namun mereka hire sejumlah nama untuk tampil, di antaranya ada Teddy Adhitya, Natasya Elvira, Oslo Ibrahim, dan beberapa nama lainnya.

Meski tak sempat menyaksikan Teenage Jazz Star, tapi tak khawatir, karena band satu itu memang tampil di 3 hari Pestapora 2026 dengan format berbeda-beda. Jika di hari pertama mengusung napas jazz, hari kedua mereka membawakan musik dangdut di bawah nama Teenage Dut Star, sedangkan di hari ketiga Teenage Death Star baru tampil seperti biasa. Laporan untuk penampilan tersebut menyusul di paragraf mendatang.

Hari kedua Pestapora 2026

Macetnya area pintu masuk Gambir Expo di hari kedua membuat saya masuk ke area Pestapora dengan sedikit keterlambatan. Namun, sejak dari tempat parkir kendaraan, saya sudah bisa mendengar beberapa penampilan, seperti Burgerkill yang saat itu paling terdengar. Sama seperti hari pertama, band dengan musik kencang dijadwalkan membuka panggung. Tak diketahui kenapa hal ini dilakukan, yang jelas para Begundal sudah terlihat memenuhi panggung tempat Burgerkill beraksi tanpa peduli sengatan sinar matahari.

Usai menonton Burgerkill, saya lanjut ke Pasar Pasaran Stage untuk menyaksikan Baale. Penampilan aktor dan musisi yang baru saja membintangi film Operasi Pesta Copet tersebut ingin saya saksikan karena penasaran, apakah akan ada korelasi aksi panggungnya dengan film karya Edy Khemod tersebut. Tak banyak gimmick yang dilakukan di panggung, namun yang langsung bisa di-spot adalah hadirnya lawan main Baale di film tersebut, Kawai Labiba yang berperan sebagai Melodi sebagai penyanyi latar.

Saat hari mulai gelap, saya memutuskan untuk beristirahat sebentar di depan panggung Vixtape. Ternyata di sana ada beberapa penampilan yang cukup menarik, namun tak bisa dimasuki karena penuhnya kapasitas. Penampilan tersebut adalah Bin Idris dan Seaside yang keduanya hanya bisa saya nikmati suaranya dari luar area panggung. Semoga di lain kesempatan bisa menyaksikan mereka dengan kondisi yang lebih kondusif.

Penampilan paling membekas di hari kedua bagi saya pribadi adalah Under The Big Bright Yellow Sun di Klab Klub Stage. Saya sama sekali tak sadar kalau band post-rock instrumental ini hadir di Pestapora, sehingga saat kebetulan melewati Klab Klub Stage dan mendapati mereka sedang tampil, perasaan senang pun tak terbendung. Belum lagi ternyata mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk berkolaborasi dengan Vicky Mono.

Seperti yang sudah sempat disebut di beberapa paragraf sebelumnya, penampilan Teenage Dut Star jadi sesuatu yang tak boleh dilewatkan di hari kedua Pestapora. Sama dengan konsep Teenage Jazz Star, dalam Teenage Dut Star, band ini kembali “menyewakan” nama mereka dengan bantuan beberapa musisi dangdut. Momen paling seru adalah saat Boiyen, seorang selebriti televisi dan penyanyi dangdut, naik ke panggung dan menyanyikan lagu-lagu TDS dalam versi dangdut. Lirik lagu yang semuanya berbahasa Inggris membuat aksi Boiyen menyanyikan nomor-nomor tersebut sangat menggelitik karena bahasa Inggris yang terbata-bata.

Saat para penonton diajak naik ke panggung, suasana langsung makin seru. Dari atas panggung kita bisa menyaksikan banyak kejadian sekaligus. Tentunya ada Boiyen yang saat itu sudah lanjut menyanyikan lagu-lagu dangdut klasik sambil menerima saweran dari personel TDS dan penonton. Lalu ada momen Baale yang duduk di belakang kendang, bahkan sampai memainkan kendang tersebut. Sungguh momen yang penuh kekacauan namun menyenangkan maksimal.

Hari ketiga Pestapora 2026

Hal wajib yang pertama kali saya niatkan untuk saksikan di hari ketiga adalah Grrrl Gang di Pasar Pasaran Stage. Alasannya sederhana, dalam banyak kesempatan menyaksikan band ini, mereka selalu memberikan penampilan yang mumpuni dari segala sisi, sound yang proper, showmanship yang sangat menghibur, dan tentunya lagu-lagu yang menyenangkan untuk dinyanyikan bersama. Hal-hal itulah yang saya kejar dan dapatkan saat menyaksikan Grrrl Gang di Pestapora kemarin.

Selain Grrrl Gang, penampilan seru lainnya di hari terakhir Pestapora 2026 datang dari Asylum Uniform di Klab Klub Stage pukul 15.45 WIB. Penampilannya memang seru, namun kalau boleh memberi saran, sepertinya musik mereka memang lebih sah dinikmati saat hari mulai gelap, karena rasanya kurang lengkap jika aksi Asylum Uniform tidak disertai gemerlap lampu panggung. Penonton yang menyaksikan mereka juga tidak begitu ramai, sehingga masih banyak ruang-ruang renggang antarpenonton yang membuat suasana cukup kikuk.

Jika melihat respons di media sosial dan obrolan-obrolan di lapangan, sepertinya penampilan Syahrini jadi sesuatu yang diantisipasi banyak orang. Bagaimana tidak, Pestapora 2026 jadi panggung perdana musisi yang akrab disapa “Inces” ini setelah vakum selama 7 tahun. Selain membawakan lagu-lagunya dan berkolaborasi dengan nama-nama modern seperti Adrian Khalif dan NPD, Syahrini juga melontarkan celotehan-celotehan khasnya yang menghibur penonton di area Pestapora Stage.

Setelah menyaksikan Syahrini, saya memutuskan untuk bersantai sambil berbincang dengan teman-teman yang hadir di Pestapora. Karena setelah dipikir-pikir kembali, salah satu fungsi penting dari festival ini tidak hanya untuk menyaksikan para musisi idola, namun juga menjalin silaturahmi dengan teman-teman yang mungkin sudah lama tak kita jumpai. Untuk poin terakhir itu, Pestapora belum pernah gagal untuk menjadi titik temu tersebut. Sampai jumpa di Pestapora tahun depan!