Pontianak (ANTARA) - Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengingatkan PT Pertamina Patra Niaga meningkatkan antisipasi terhadap potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) akibat penurunan debit dan pendangkalan Sungai Kapuas, Kalbar selama musim kemarau.
"Musim kemarau tidak boleh sampai berubah menjadi krisis distribusi BBM karena di sejumlah daerah, sungai merupakan jalur utama pengangkutan BBM. Ketika debit air turun drastis, kapal tanker maupun ponton tidak dapat beroperasi secara normal sehingga distribusi BBM berpotensi terlambat dan pada akhirnya mengganggu pasokan di SPBU," katanya saat di hubungi melalui telepon, Selasa.
Menurut Sofyano, kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketahanan energi, terutama di sejumlah wilayah Indonesia yang masih mengandalkan jalur sungai sebagai sarana utama pengangkutan BBM menuju daerah pedalaman.
Ia menyebut sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak antara lain daerah yang dilayani melalui Sungai Kapuas dan anak sungainya di Kalimantan Barat menuju Sanggau, Sintang, Melawi hingga Kapuas Hulu.
Selain itu, potensi gangguan serupa dapat terjadi di sepanjang Sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang melayani wilayah Mahakam Ulu, Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Musi di Sumatera Selatan, serta sejumlah sungai di wilayah pedalaman Papua.
Sofyano menjelaskan penurunan muka air sungai dapat membuat kapal mengurangi muatan karena keterbatasan kedalaman alur pelayaran. Pada titik tertentu, kapal atau ponton bahkan berpotensi tidak dapat melintas sehingga waktu distribusi lebih lama dan biaya logistik meningkat.
"Risiko kekurangan stok BBM di daerah terpencil semakin besar apabila gangguan distribusi tidak diantisipasi sejak awal," katanya.
Karena itu, Sofyano meminta Pertamina Patra Niaga menerapkan langkah mitigasi sejak awal musim kemarau dengan memperkuat stok penyangga atau "buffer stockstock" di terminal BBM maupun SPBU yang berada di wilayah rawan gangguan distribusi.
Pertamina juga dinilai perlu memantau kondisi sungai secara berkala bersama BMKG, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, dan otoritas pelayaran agar perubahan debit air dapat diprediksi lebih dini.
Selain itu, ia mendorong penyediaan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui, penggunaan kapal atau ponton dengan "draft" lebih rendah, serta penguatan sistem pemantauan stok BBM secara digital.
"Simulasi penanganan gangguan distribusi BBM di wilayah rawan juga perlu dilakukan secara berkala agar koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, aparat keamanan, operator transportasi, dan pengelola SPBU dapat berjalan efektif ketika kondisi darurat terjadi," ujarnya.
Sofyano menegaskan ketahanan energi nasional tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok BBM, tetapi juga kemampuan menyalurkannya kepada masyarakat. Karena itu, musim kemarau harus diperlakukan sebagai risiko logistik yang dimitigasi sejak dini agar pasokan BBM tetap aman dan berkelanjutan.
Sementara itu, dari pantauan ANTARA di Pontianak, tampak antrian panjang oleh pemilik kendaraan roda dua dan empat mewarnai sejumlah SPBU, yang ingin membeli BBM berbagai jenis di SPBU.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.