James Tumbridge, pengacara internasional yang menjabat sebagai jaksa agung pemerintahan Chagossian di pengasingan, mengatakan pemindahan logistik ke Diego Garcia memang menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi sekaligus memperlihatkan nilai strategis pangkalan tersebut.
“Pangkalan ini sangat penting bagi keamanan regional Inggris, Amerika Serikat, dan sekutu kami,” kata Tumbridge.
Menurut laporan yang dikutip dari The New York Times, jaringan logistik militer AS dalam perang kini mencakup jalur pasokan laut sekitar 2.200 mil menuju Diego Garcia.
Pengalihan tersebut dilakukan setelah instalasi militer AS di Bahrain menjadi sasaran serangan Iran.
Diego Garcia memiliki posisi geografis yang jauh dari kawasan pesisir Teluk yang lebih mudah dijangkau oleh serangan Iran. Namun, konsekuensinya adalah perjalanan pasokan menjadi lebih panjang sehingga proses pengisian kembali kebutuhan logistik pasukan berlangsung lebih lambat.
Tumbridge menilai kondisi tersebut tetap menunjukkan bahwa Diego Garcia memiliki peran penting bagi operasi militer AS.
“Bahrain merupakan target yang jauh lebih mudah, sehingga perubahan pengaturan pasokan AS masuk akal,” ujarnya.
Diego Garcia berada di bagian selatan Kepulauan Chagos dan menjadi salah satu fasilitas militer paling strategis milik AS di kawasan Samudra Hindia.
Pangkalan tersebut dilaporkan menampung sekitar 2.500 personel militer AS dan selama bertahun-tahun digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat di berbagai kawasan.
Dalam konflik dengan Iran, pangkalan tersebut juga dilaporkan mendukung kelompok tempur kapal induk, termasuk USS Abraham Lincoln.
Kekuatan yang berada di bawah kelompok tempur tersebut telah menjalankan operasi udara dan membantu pelaksanaan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Meningkatnya peran Diego Garcia menjadi semakin penting ketika USS Abraham Lincoln mendekati sembilan bulan masa penempatan terus-menerus di kawasan tersebut.
Presiden Donald Trump pada 14 Agustus mengatakan kapal induk baru sedang menuju Timur Tengah untuk menggantikan kapal tersebut.
Nilai strategis Diego Garcia juga membuat pangkalan tersebut menjadi perhatian Iran.
Pada 20 Maret, Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal balistik menuju Diego Garcia.
Salah satu rudal mengalami kegagalan dalam penerbangan, sementara kapal perang AS meluncurkan pencegat terhadap rudal lainnya. Pejabat Inggris kemudian mengatakan satu rudal jatuh sebelum mencapai sasaran dan rudal lainnya berhasil dicegat.
Tumbridge menilai serangan tersebut tidak menunjukkan ancaman serius terhadap keberadaan pangkalan.
Menurutnya, upaya serangan sebelumnya justru menunjukkan keterbatasan Iran dalam hal jangkauan dan kemampuan penargetan.
Meningkatnya peran militer Diego Garcia juga kembali memunculkan persoalan mengenai status kedaulatan Kepulauan Chagos.
Mauritius telah lama mengklaim kedaulatan atas kepulauan tersebut. Klaim itu mendapat dukungan dari pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) pada 2019 dan tindakan lanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Inggris dan Mauritius pada 2025 menandatangani perjanjian yang akan mengakui kedaulatan Mauritius atas Kepulauan Chagos. Namun, Inggris tetap akan mempertahankan kendali atas Diego Garcia untuk periode awal selama 99 tahun.
Implementasi kesepakatan tersebut kemudian ditangguhkan di tengah kekhawatiran Amerika Serikat mengenai rencana pengalihan kedaulatan.
Laporan pada Juni menyebut pejabat AS telah menyusun proposal yang memungkinkan Washington melewati Inggris dan membuat kesepakatan untuk mengambil kendali langsung atas Diego Garcia.
Proposal tersebut disebut sebagai salah satu alternatif terhadap rencana pemerintahan Inggris untuk mengalihkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius.
Tumbridge menolak gagasan bahwa kepulauan tersebut dapat begitu saja dijual kepada Amerika Serikat.
“Trump tidak dapat membeli kepulauan tersebut,” ujarnya.
Menurut Tumbridge, persoalan kedaulatan tidak dapat diselesaikan melalui penjualan dan Mauritius juga tidak dapat menjualnya sebelum Inggris terlebih dahulu menyerahkan wilayah tersebut.
Ia justru berharap Inggris mempertahankan pengelolaan wilayah tersebut sekaligus terus mendukung penggunaan Diego Garcia oleh Amerika Serikat.
Perang Iran telah memperlihatkan bagaimana posisi geografis menjadi faktor penting dalam strategi militer Amerika Serikat.
Dengan sejumlah fasilitas AS di kawasan Timur Tengah menghadapi risiko serangan, Diego Garcia menawarkan lokasi yang lebih terpencil sekaligus memungkinkan Washington mempertahankan jaringan operasi militernya di kawasan Samudra Hindia dan Timur Tengah.
Namun, penggunaan pangkalan tersebut juga membawa konsekuensi logistik karena jaraknya yang jauh dari pusat konflik.
Meningkatnya ketergantungan Pentagon terhadap Diego Garcia kini membuat masa depan pangkalan tersebut semakin terkait dengan perang Iran, strategi militer AS, dan sengketa kedaulatan Kepulauan Chagos.
Sumber: Skynews