Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan selama lima hari berturut-turut. Kesepakatan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka jalur perundingan kini dinyatakan tidak lagi berlaku.
Meski Washington dan Teheran sama-sama masih membuka peluang diplomasi, para pemimpin kedua negara masih menunjukkan sikap keras. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan Washington, tetapi ia meragukan Teheran akan mematuhi perjanjian tersebut.
Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammed Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tengah menghadapi "perang eksistensial dengan Amerika" sehingga tidak memiliki alasan untuk tetap terikat pada perjanjian damai sebelumnya.
Di balik retorika tersebut, Iran menghadapi tekanan besar dari ekonomi yang sudah lama terpukul sanksi internasional serta kemampuan militernya yang terus terkikis.
Selama lebih dari satu dekade, sanksi AS telah membatasi ekspor minyak Iran, menghambat akses pembiayaan global, serta membekukan berbagai aset negara itu. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Iran turun dari sekitar US$8.000 atau sekitar Rp144 juta menjadi US$5.000 atau sekitar Rp90 juta per kapita. Sementara ekspor minyak menyusut dari 2,2 juta barel per hari pada 2012 menjadi sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2025.
Sempat ada sedikit ruang bernapas ketika MoU ditandatangani pada Juni. Washington mencabut blokade laut, memberikan pengecualian sanksi selama 60 hari, serta menjanjikan pencairan aset Iran sehingga nilai tukar rial menguat sekitar 15%. Namun, sanksi kembali diberlakukan pekan ini sehingga tekanan terhadap perekonomian Iran kembali meningkat.
Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut kemampuan pertahanan Iran telah melemah signifikan setelah gelombang serangan AS-Israel.
Hingga awal April, Iran diperkirakan telah menghabiskan sekitar 30% stok rudal sebelum perang dan 60% persediaan drone. Berbagai pelabuhan, kapal perang, fasilitas produksi senjata, hingga situs nuklir juga menjadi sasaran serangan, sementara operasi militer AS terbaru terus menyasar instalasi strategis Iran.
Iran juga menghadapi tekanan diplomatik di kawasan. Serangan terhadap aset militer AS di negara-negara Teluk turut mengenai wilayah kedaulatan beberapa negara dan menimbulkan korban sipil. Kondisi ini mendorong negara-negara Teluk mempererat kerja sama pertahanan melalui berbagi data intelijen dan koordinasi sistem peringatan dini.
Sementara itu, perang juga membawa konsekuensi besar bagi Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak sekitar 12%.
Dampaknya terasa hingga ke konsumen Amerika, dengan harga bensin naik dari US$2,98 per galon atau sekitar Rp53.640 menjadi US$4,63 per galon atau sekitar Rp83.340. Jika dihitung per liter, harga bensin meningkat dari sekitar Rp14.040 menjadi Rp21.960.
Lonjakan biaya energi turut memengaruhi persepsi publik terhadap perang. Survei YouGov menunjukkan sekitar 57% warga Amerika menilai keputusan pemerintahan Trump melanjutkan perang merupakan langkah yang keliru. Sentimen tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Selain itu, persediaan senjata AS juga mulai tergerus. Menurut CSIS, sedikitnya empat dari tujuh jenis amunisi paling canggih yang digunakan Washington telah menghabiskan sekitar separuh stoknya sejak fase awal perang.
Pengisian kembali persediaan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, meski pemerintah telah mendorong peningkatan produksi industri pertahanan. Di saat yang sama, perang juga telah menewaskan 14 personel militer AS dan menyebabkan 414 lainnya terluka hingga 14 Juli.
Profesor Hubungan Internasional dari Australian National University, Alam Saleh, menilai tekanan ekonomi tidak akan cukup memaksa Iran menyerah.
"Ekonomi Iran bergantung pada produksi dalam negeri dan telah bertahan hampir 47 tahun di bawah sanksi. Iran tidak siap membuat kesepakatan apa pun kecuali yang menjamin keamanannya. Apa pun tekanan ekonominya, Iran tidak akan berkompromi," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (17/7/2026).
Sementara itu, pakar keamanan International Crisis Group Brian Finucane mengatakan kekhawatiran terbesar Washington bukan hanya perang melawan Iran, melainkan kesiapan menghadapi potensi konflik lain di masa depan.
"Tingkat konsumsi senjata penting seperti rudal pencegat Patriot dan rudal jelajah Tomahawk sangat tinggi. Persenjataan ini bisa saja dibutuhkan untuk kemungkinan kontingensi militer dengan China," katanya.
Saleh menilai perang berkepanjangan sama-sama merugikan kedua negara. Namun, menurutnya, AS menghadapi risiko reputasi yang lebih besar.
"China dan Rusia melihat bahwa AS tidak mampu mengatasi Iran dengan mudah. Ini menunjukkan militer AS memiliki keterbatasan dalam menghadapi kekuatan menengah seperti Iran," pungkasnya.
(tfa/luc)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]