Pontianak (ANTARA) - Rencana pengalihan bisnis angkutan minyak dan armada tanker PT Pertamina International Shipping (PIS) ke entitas lain perlu dikaji objektif agar tidak mengorbankan bisnis yang telah menghasilkan nilai.
"Untuk itu saya merekomendasikan bisnis tersebut tetap berada di PIS apabila belum terdapat bukti kuat bahwa entitas baru mampu menciptakan nilai lebih besar," kata Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional Bambang Sabekti dalam keterangan tertulisnya, Sabtu.
Menurut Bambang, restrukturisasi tidak semestinya hanya bertumpu pada konsolidasi aset maupun asumsi efisiensi, melainkan harus mempertimbangkan kinerja usaha dan kemampuan menciptakan nilai setelah pengalihan.
"Rekomendasi saya sederhana, jangan pindahkan bisnis yang sudah berjalan baik hanya karena alasan restrukturisasi. Pertahankan di PIS jika belum ada bukti kuat bahwa entitas baru mampu memberikan hasil yang lebih baik," tuturnya.
Ia mengatakan, setelah PIS direintegrasikan dengan PT Pertamina Patra Niaga, perusahaan tersebut lebih berfokus pada bisnis angkutan minyak untuk pasar non-Pertamina yang menyumbang sekitar 35 persen bisnis PIS dengan dukungan sekitar 35 kapal tanker.
Karena itu, Bambang meminta manajemen membandingkan secara objektif kinerja bisnis apabila tetap dikelola PIS dengan proyeksi pendapatan dan keuntungan jika dialihkan kepada entitas baru.
Menurut dia, kajian tersebut harus mencakup pendapatan, laba, arus kas, utilisasi armada, kontrak, pelanggan, biaya operasi, biaya transisi hingga prospek pertumbuhan, bukan sekadar membandingkan nilai aset kapal.
Bambang juga mengingatkan pentingnya menjaga pelanggan karena perubahan entitas operator berpotensi mempengaruhi kontrak, kualitas layanan, jadwal pelayaran dan kepercayaan pengguna jasa.
"Pelanggan tidak membeli kapal. Mereka membeli kepastian layanan, keselamatan, ketepatan waktu dan keandalan. Kalau pengalihan membuat pelanggan pergi, maka kita kehilangan pasar yang sudah dibangun bertahun-tahun," katanya.
Selain pelanggan, ia menilai keberlangsungan SDM menjadi faktor penting mengingat bisnis tanker membutuhkan kompetensi khusus, mulai dari pengoperasian kapal, penanganan muatan minyak, keselamatan, vetting, kepatuhan hingga manajemen risiko.
Bambang mengatakan, apabila pengalihan akhirnya dilakukan, pelanggan, kontrak dan SDM kunci harus dipastikan tetap terjaga karena pemindahan kapal tanpa mempertahankan kompetensi dapat berdampak pada keselamatan, produktivitas dan pelayanan.
Menurut dia, pengalihan dapat menjadi pilihan apabila kajian bisnis membuktikan entitas baru mampu meningkatkan utilisasi armada, menekan biaya, memperbesar pendapatan serta mempertahankan pelanggan dan kompetensi SDM, namun tanpa bukti tersebut bisnis tanker sebaiknya tetap dipertahankan di PIS.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.