Kamis, 27 Agustus 2026 21:25 WIB
Peneliti UM Palangkaraya kembangkan alat ukur kompetensi wirausaha siswa SMK. (ANTARA/UMPR)
Palangka Raya (ANTARA) - Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Palangkaraya mengembangkan dan menguji sebuah instrumen baru untuk mengukur kesiapan berwirausaha siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan pijakan pada potensi sumber daya di daerah tempat mereka bersekolah.
"Instrumen itu diberi nama Local Entrepreneurship Competency Framework (LECF)," kata Ketua Tim Peneliti UMPR Dr Iin Nurbudiyani MPd didampingi tim peneliti Dibyo Waskito Guntoro MPd dan Muhammad Achiril Haq SM MM di Palangka Raya, Kamis.
Dia mengatakan, kegiatan ini merupakan Penelitian Fundamental Reguler tahun anggaran 2026 yang dibiayai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Latar persoalannya sudah lama dikenal. Data yang dirujuk tim peneliti menunjukkan hanya 23,64 persen lulusan SMK memilih jalur wirausaha, sementara jenjang SMK menyumbang tingkat pengangguran terbuka tertinggi di antara jenjang pendidikan lain, yakni 9,01 persen.
Di sisi lain, Kalimantan Tengah memiliki komoditas herbal, perikanan, dan perkebunan yang belum banyak diolah lulusan SMK menjadi peluang usaha mandiri.
"Kerangka kompetensi kewirausahaan yang selama ini dipakai masih bersifat generik, dan adaptasi lokalnya cenderung sebatas tempelan. Padahal kekayaan alam dan budaya daerah adalah aset terbesar kita," kata Iin.
Dia menerangkan, instrumen LECF disusun melalui tiga tahap. Tahap pertama menggali dimensi kompetensi lewat kajian literatur, diskusi kelompok terarah bersama guru SMK, praktisi dunia usaha dan dunia industri, serta tokoh masyarakat, dan analisis dokumen potensi ekonomi daerah. Tahap kedua menguji kelayakan isi 53 butir pernyataan melalui penilaian tujuh pakar. Tahap ketiga menguji instrumen di lapangan.

"Survei menjangkau 440 siswa. Setelah penyaringan kualitas jawaban, 390 responden (88,6 persen) dinyatakan layak dianalisis," katanya.
Mereka berasal dari tujuh kabupaten dan kota yang mewakili lima zona wilayah, yakni Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kota Palangka Raya, Gunung Mas, Kapuas, dan Murung Raya.
Dia mengatakan, hasil pemodelan statistik menunjukkan pemahaman siswa terhadap potensi daerahnya berkaitan erat dengan kompetensi wirausaha mereka. Secara statistik, pemahaman potensi lokal menjelaskan 45,0 persen keragaman kompetensi wirausaha siswa. Bersama-sama, kedua hal itu menjelaskan 56,9 persen keragaman minat berwirausaha.
"Yang menarik, kompetensi berperan sebagai jembatan. Sekitar 40,3 persen pengaruh pemahaman potensi daerah terhadap minat berwirausaha mengalir melalui kompetensi, sedangkan sisanya bekerja langsung. Artinya, mengenalkan potensi daerah saja tidak cukup, siswa perlu dibekali keterampilan praktis mengolahnya," katanya.
Dari sisi kualitas alat ukur, model LECF memenuhi seluruh ambang kelayakan statistik yang berlaku, dengan indeks kecocokan model (CFI) 0,992 dan RMSEA 0,033. Ketiga skala di dalamnya juga menunjukkan keandalan yang baik.
Di luar hasil utama, tim menemukan hal yang jarang dilaporkan penelitian sejenis di Indonesia. Struktur jawaban siswa ternyata lebih mengikuti arah kalimat pernyataan daripada dimensi kompetensi yang dirancang.
Pada butir berkalimat positif, 80,0 persen siswa menjawab setuju. Pada butir berkalimat negatif yang bermakna kebalikannya, angka persetujuan tetap tinggi di 48,8 persen, padahal jika siswa konsisten terhadap isi pernyataan, angkanya semestinya berada di kisaran 20 persen.
*Gejala ini dikenal dalam psikometri sebagai kecenderungan menyetujui atau acquiescence bias. Pengujian tambahan memastikan gejala tersebut tidak mengganggu hubungan antarvariabel yang ditemukan," katanya.
Temuan itu menjadi dasar perbaikan instrumen. Pada versi revisi yang akan didaftarkan hak ciptanya, porsi pernyataan berkalimat negatif akan dibatasi 25 sampai 30 persen dan disebar merata, serta setiap area kompetensi diberi jumlah butir yang memadai.
Tim menargetkan publikasi hasil penelitian pada jurnal internasional bereputasi Q1, yakni Empirical Research in Vocational Education and Training, yang naskahnya kini dalam tahap penyusunan. Luaran lain berupa pendaftaran hak cipta instrumen, video dokumentasi, dan poster ilmiah.
Pada peta jalan penelitian, LECF direncanakan menjadi landasan pengembangan sistem kurikulum dan platform digital sertifikasi mikro (micro-credential) kewirausahaan berbasis potensi lokal pada 2027, untuk kemudian diterapkan secara bertahap di wilayah barat, tengah, dan timur Kalimantan Tengah hingga 2030.
Isu kewirausahaan muda memang tengah menjadi perhatian nasional. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Dewan Kerajinan Nasional, misalnya, meluncurkan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tahun 2026 pada Mei lalu dengan target membina 8.730 wirausaha muda, meskipun program tersebut menyasar generasi muda usia produktif melalui lembaga kursus dan pelatihan, bukan jalur SMK.
"Alat ukur yang tervalidasi membuat kita bisa memastikan bahwa yang dilatih benar-benar menguasai potensi daerahnya, bukan sekadar hafal teori bisnis umum," ujar Iin.
Pewarta : _
Editor: Rendhik Andika
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.