Banjarbaru (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengintensifkan 200 personel gabungan dengan dukungan 53 pompa mesin dompeng untuk pemadaman dan pembasahan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) wilayah prioritas di Guntung Damar, Banjarbaru.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel Endarto, selaku koordinator karhutla Guntung Damar, mengatakan operasi tersebut telah optimal lebih dari 15 hari dengan ratusan personel yang ditempatkan pada sejumlah fungsi sesuai kebutuhan lapangan.
“Di luar 53 mesin dompeng itu, ada tambahan sekitar 20 unit bantuan pompa dari pihak lain untuk memperkuat penanganan,” kata dia saat meninjau penanganan karhutla di Guntung Damar, Banjarbaru, Rabu.
Ia menyebut 200 petugas gabungan terdiri atas 150 petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran, sekitar 30 orang dari Dinas ESDM dan relawan, 10 orang dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta dibantu sejumlah personel pendukung dari instansi lain.
Dia menjelaskan, pengoperasian pompa disesuaikan dengan kondisi masing-masing titik karena terdapat bagian kawasan yang sudah cukup basah sehingga mesin dapat dimatikan, sedangkan pompa pada lokasi yang masih membutuhkan pembasahan tetap beroperasi selama 24 jam memaksimalkan pasokan air dari Embung Jokowi.
"Pola tersebut diterapkan dengan mempertimbangkan efektivitas penggunaan mesin, sehingga pompa tidak harus terus bekerja pada lokasi yang tingkat kebasahan sudah mencukupi,” katanya.
Pada titik yang masih membutuhkan penanganan, kata dia, pembasahan dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kondisi lahan tetap basah sekaligus mengurangi peluang munculnya kembali api setelah pemadaman dilakukan oleh personel di lapangan.
Selain itu, penanganan dari darat juga mendapat dukungan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter, untuk melakukan pengeboman air pada titik yang membutuhkan, terutama ketika kondisi lokasi menyulitkan penanganan hanya dengan kekuatan personel di permukaan.
Ia menjelaskan pembagian personel dilakukan berdasarkan kebutuhan operasi, dengan aktivitas tenaga lapangan lebih banyak pada pagi hingga siang hari, sedangkan pada malam hari penanganan lebih difokuskan pada pembasahan menggunakan pompa.
“Seluruh peralatan intens digunakan untuk mempertahankan efektivitas penanganan di kawasan yang masih menghadapi ancaman titik api. Pemadaman dan pembasahan juga terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi lahan gambut,” ujar Endarto.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.