Rabu, 16 September 2026 15:40 WIB
Foto bersama kunjungan Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus dan Wamendagri Akhmad Wiyagus ke RSUD Tidar Kota Magelang didampingi Wali Kota Magelang Damar Prasetyono (dua dari kiri) dan Wakil Wali Kota Sri Harso (dua dari kanan), Selasa (15/9/2026) malam. ANTARA/HO-Bagian Prokompim Pemkot Magelang
Magelang (ANTARA) - Pemerintah Kota Magelang menjadikan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak hanya sarana pemeriksaan kesehatan akan tetapi juga pintu masuk untuk menemukan kasus Tuberkulosis (TBC) lebih awal di masyarakat.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dalam rilis Bagian Prokompim Pemkot Magelang di Magelang, Rabu, mengatakan penemuan kasus harus diikuti dengan pengobatan dan pemantauan hingga pasien menyelesaikan seluruh rangkaian terapi.
"Penemuan kasus harus sedini mungkin, pasien segera mendapat pengobatan, dan pengobatan dipastikan sampai tuntas,” ujarnya ketika mendampingi kunjungan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus ke RSUD Tidar Kota Magelang, Selasa (15/9) malam. Turut mendampingi kunjungan mereka, antara lain Wakil Wali Kota Magelang Sri Harso.
Pemerintah Kota Magelang, katanya, akan memperkuat peran puskesmas, RSUD, kader kesehatan, pemerintah kelurahan, dan masyarakat dalam penemuan serta penanganan kasus TBC.
Upaya tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan perangkat daerah, dunia pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan unsur masyarakat.
Wamenkes Benjamin mengatakan penanganan TBC menjadi salah satu prioritas pemerintah mengingat tingginya beban kasus penyakit tersebut di Indonesia.
“Penanganan TBC menjadi prioritas utama,” katanya dalam kegiatan di Aula RSUD Tidar itu.
Pemerintah mendorong integrasi program CKG dengan upaya penemuan dan penanggulangan TBC untuk mempercepat deteksi kasus di masyarakat.
Ia menjelaskan pemerintah tidak hanya memperkuat pengobatan pasien TBC, tetapi juga meningkatkan upaya pencegahan dan penemuan kasus sedini mungkin.
Pemantauan penanganan TBC, katanya, dilakukan di sejumlah daerah untuk melihat langsung kendala yang dihadapi di lapangan.
Ia menyebut di Kota Magelang tingginya aktivitas layanan kesehatan juga menunjukkan peran kota tersebut sebagai rujukan masyarakat dari wilayah sekitar.
Ia mencontohkan dengan jumlah penduduk sekitar 130 ribu jiwa, secara perhitungan kebutuhan tempat tidur rumah sakit di Kota Magelang sekitar 130 unit. Namun, kapasitas tempat tidur yang terisi dapat mencapai lebih dari 400 unit.
"Kondisi tersebut, menunjukkan Kota Magelang menjadi salah satu tujuan rujukan pasien dari daerah sekitar, termasuk dalam penanganan TBC. Karena Kota Magelang pelayanan bagus, dan bisa jadi percontohan," katanya.
Program CKG secara nasional telah dimanfaatkan lebih dari 95 juta orang, sedangkan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan tingkat partisipasi CKG tertinggi di Indonesia, salah satunya berkat kehadiran program Dokter Spesialis Keliling (Spelling).
Wamendagri Wiyagus mengatakan penanggulangan TBC membutuhkan kolaborasi pemerintah secara berjenjang, mulai dari tingkat pusat hingga daerah dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut, katanya, perlu diperkuat hingga tingkat provinsi, kabupaten atau kota, kecamatan, desa, dan posyandu.
Ia mengatakan sosialisasi kepada masyarakat juga penting untuk meningkatkan pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan dan pengobatan harus dijalankan hingga tuntas.
Integrasi CKG dengan penanggulangan TBC diharapkan memperluas jangkauan penemuan kasus, sehingga pasien dapat lebih cepat memperoleh penanganan dan upaya pencegahan penularan dapat dilakukan sejak dini.
Pewarta: M. Hari Atmoko
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.