Pemkot Kupang mengembangkan biopori untuk tingkatkan resapan air

calendar_today 01.10.2026 - person  - timer ~

Pemkot Kupang mengembangkan biopori untuk tingkatkan resapan air

Kamis, 1 Oktober 2026 12:32 WIB

Image Print

Sekda Kota Kupang Ignasius Lega bersama sejumlah pihak melakukan pemasangan biopori di halaman Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, sebagai simbol dimulainya aksi konservasi air, Kupang, Rabu (30/9/2026).  (ANTARA/HO-Pemkot Kupang)

Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, Nusa Tenggara Timur, berkolaborasi mengembangkan biopori untuk meningkatkan resapan air hujan sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air dan mengurangi risiko banjir di daerah itu.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang Ignasius Lega di Kupang, Kamis, mengatakan Pemkot Kupang memperkuat gerakan konservasi air tanah melalui peluncuran biopori sebagai bagian dari gerakan “Kupang Berair” (Bersatu Rawat Air dan Tanah).

“Kami berharap surat edaran tentang konservasi air tidak berhenti sebagai dokumen administrasi. Kami minta para camat dan lurah menjadi penggerak di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Hal itu disampaikannya dalam Workshop Membangun Komitmen Bersama untuk Aksi Implementasi Konservasi Air Tanah, yang digelar PLAN International Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kupang.

Menurut dia, kerja sama Pemkot Kupang dan PLAN International Indonesia berlangsung selama empat tahun dan kini memasuki tahun pertama melalui program Cerdas Kelola Air dan Lahan Berkelanjutan (CERAH).

Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan air dan lahan yang inklusif serta berkelanjutan di Kota Kupang.

Salah satu bentuk implementasinya adalah pemasangan biopori. Sebanyak enam titik biopori mulai dibuat di lingkungan Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, sebagai simbol dimulainya aksi konservasi tersebut.

Biopori merupakan lubang silindris vertikal yang dibuat di dalam tanah untuk meningkatkan resapan air hujan sekaligus membantu pengelolaan sampah organik.

Pemkot Kupang mendorong agar langkah sederhana ini menjadi bagian dari kebiasaan baru masyarakat dalam menjaga air dan tanah.

Ignasius menekankan, gerakan tersebut harus dimulai dari lingkungan terkecil, seperti rumah tangga, sekolah, RT/RW, kelompok perempuan, anak muda, lembaga keagamaan hingga komunitas. Selanjutnya, gerakan itu diharapkan berkembang di seluruh 51 kelurahan di Kota Kupang.

Dia menegaskan, konservasi air merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air bagi generasi mendatang. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar gerakan tersebut tidak berhenti sebagai program pemerintah.

Sementara itu, Safeguarding Advisor sekaligus National Child Protection Advisor PLAN International Indonesia Sigit Wacono menjelaskan bahwa gerakan Kupang Berair merupakan gerakan konservasi air dan tanah yang juga diarahkan untuk mendukung pengendalian banjir dan longsor serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan lahan.

“Kami mendorong pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan inklusif dengan melibatkan perempuan, anak, kaum muda, masyarakat, kelompok disabilitas dan kelompok rentan dalam perencanaan maupun aksi konservasi,” ujarnya.

Pemkot Kupang selanjutnya akan memantau implementasi konservasi air di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk memastikan komitmen yang telah dibangun benar-benar bergerak menjadi aksi di lapangan.

Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.