Rabu, 30 September 2026 16:30 WIB
Illustrasi - Kabut asap yang tampak menyelimuti gedung pencakar langit di Batam, Kepri. ANTARA/Amandine Nadja
Batam (ANTARA) - Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menyebut pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa, PAUD, SD dan SMP berlanjut karena kualitas udara di wilayah tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Batam Rudi Panjaitan mengatakan berdasarkan pembaruan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), indeks kualitas udara Batam berada pada angka 107 sekitar pukul 11.00 WIB.
"Untuk hari ini, tadi ada update dari Dinas Lingkungan Hidup, itu juga masih dalam kondisi tidak sehat. Kategorinya di angka 107 jam 11 tadi dan 109 pada jam 12," kata Rudi di Batam, Rabu.
Sebagai informasi, angka Air Quality Indeks (AQI) di atas 100 menandakan kondisi udara berisiko, dan rentang 0-50 menandakan kondisi udara sehat.
Ia mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan sehingga pemerintah masih perlu mengantisipasi dampak kabut asap terhadap masyarakat, khususnya anak-anak.
Rudi menjelaskan kebijakan PJJ sebelumnya diterapkan pada 15 dan 16 September 2026 setelah kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Setelah itu, kondisi udara sempat membaik dan berada pada kategori sedang selama sekitar satu pekan. Kualitas udara kembali memburuk sejak Senin (28/9) dengan indeks berada di angka 149.
Pemkot Batam kemudian kembali menerapkan PJJ bagi siswa SD dan SMP pada 29 September dan berlanjut hingga hari ini.
"Jadi dalam dua hari ini siswa tingkat PAUD, SD dan SMP juga sudah belajar dari rumah. Ini respons kita untuk menilai surat edaran tersebut supaya kita bisa mengantisipasi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada anak-anak," ujarnya.
Ia mengimbau siswa yang belajar dari rumah tetap membatasi aktivitas di luar ruangan.
Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat diminta menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan asap.
Sementara itu, Forecaster BMKG Hang Nadim Ibnu Susilo mengatakan kualitas udara Batam dalam sekitar satu pekan terakhir rata-rata berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan pengukuran PM2,5 di kantor BMKG, konsentrasinya mencapai 78,1 mikrogram per meter kubik.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
Dampaknya juga terlihat pada jarak pandang. Pada 30 September, jarak pandang di wilayah Bandara Hang Nadim dan sekitarnya sekitar 3.000 meter, lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang berkisar 9.000-10.000 meter.
"Untuk penerbangan jelas ini juga berpengaruh untuk take-off maupun landing pesawat," kata Ibnu.
Meski demikian, Bandara Hang Nadim masih beroperasi dan tidak ada penerbangan yang dibatalkan.
Ia mengatakan ketika jarak pandang turun hingga sekitar 1.500-1.700 meter dalam beberapa hari sebelumnya, sejumlah pesawat yang akan mendarat memilih menunggu kondisi membaik sebelum mendarat.
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.