Pemkab Gunungkidul mendorong petani terapkan pertanian ramah lingkungan

calendar_today 14.07.2026 - person  - timer ~

Pemkab Gunungkidul mendorong petani terapkan pertanian ramah lingkungan

Selasa, 14 Juli 2026 19:37 WIB

Image Print

Seorang petani Situbondo, Jawa Timur, menunjukkan tanaman padi menggunakan pupuk organik cair limbah rumah tangga. ANTARA/Novi Husdinariyanto

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mendorong kelompok tani menerapkan konsep pertanian ramah lingkungan melalui pemanfaatan pupuk dan pestisida organik guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sekaligus meningkatkan ketahanan sektor pertanian menghadapi cuaca ekstrem.

Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto, di Gunungkidul, Selasa, mengatakan penerapan pertanian ramah lingkungan telah dilakukan salah satunya oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Maju, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Ponjong, melalui penyemprotan tanaman padi menggunakan bahan organik.

"Ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan tanaman sekaligus mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan guna menghadapi tantangan cuaca ekstrem," katanya.

Menurut dia, Pemkab Gunungkidul berkomitmen memberikan dukungan kepada petani melalui pendampingan serta penyediaan sarana produksi untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan menindaklanjuti aspirasi Gapoktan Sido Maju yang masih mengandalkan mesin diesel untuk mengairi lahan seluas 26 hektare dengan biaya operasional yang relatif tinggi.

"Kami akan mengkaji usulan pembangunan sistem pipanisasi permanen sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat jaringan irigasi," ujarnya.

Joko mengatakan Pemkab Gunungkidul terus memperkuat kolaborasi dengan penyuluh pertanian, lembaga teknis, dan petani guna meningkatkan ketahanan pangan daerah sehingga sektor pertanian semakin produktif, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Sarno mengatakan perlindungan tanaman kini diarahkan pada pemanfaatan bahan organik dan agen hayati yang lebih ramah lingkungan.

"Berbagai agen hayati seperti bakteri dan jamur dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan tanaman padi sekaligus mengendalikan organisme pengganggu tanaman," katanya.

Menurut dia, salah satu bahan organik yang banyak digunakan ialah tetes tebu sebagai media untuk mengaktifkan mikroorganisme bermanfaat sebelum diaplikasikan ke lahan pertanian, baik sebagai pupuk maupun pestisida.

"Sebagai upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida maupun pupuk kimia," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mengenalkan inovasi pertanian berupa produk N Level 1, yaitu cairan yang berfungsi menetralkan tingkat keasaman (pH) tanah, terutama pada lahan sawah berlumpur dalam.

Produk tersebut, lanjut dia, diyakini mampu menekan serangan hama dan penyakit tanaman sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

"Pertanian berkelanjutan bukan hanya untuk meningkatkan hasil panen saat ini, tetapi juga menjaga kualitas lahan dan menghasilkan pangan yang sehat bagi generasi mendatang," kata Sarno.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026