Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menargetkan refocusing atau penataan ulang penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum 5 Agustus 2026.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin dalam rapat perbaikan tata kelola di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Jakarta, Rabu, mengatakan Kemenkes dan BGN akan duduk bersama dengan ahli-ahli gizi terkemuka di Indonesia untuk memfokuskan penerima manfaat hingga standar menu MBG berdasarkan penyesuaian tersebut.
Baca juga: Guru Besar UMJ: Benahi dan prioritaskan MBG untuk kelompok rentan
"Targetnya ini kita mau refine (menyaring) sekolah mana yang mau dikasih, usia mana, SD-nya di mana, lokasinya di mana, fokusnya ke daerah stunting dan lain sebagainya. Lalu, ibu hamil yang bagaimana, balitanya gimana, itu kita harapkan tanggal 5 Agustus 2026 sudah selesai semua, ahli gizi memberikan masukan ke Kemenkes dan BGN untuk menentukan target," kata Budi.
Ia menegaskan Kemenkes-BGN bersama para ahli gizi juga akan menentukan standar menu MBG yang akan diberikan kepada para penerima manfaat.
"Misalnya di satu sisi ini mau kasih kacang, mau kasih susu, mau kasih apa, itu nanti masuk (menjadi bagian penyesuaian). Saya sangat yakin dengan stand-nya Kepala BGN yang baru ini, dia akan cepat membereskan (data) itu dengan tegas. Jadi, berikan kesempatan kita untuk memperbaiki program yang menurut saya sangat penting buat kesehatan ini," ujar dia.
Baca juga: Pemerintah bidik 'refocusing' penerima MBG tuntas dalam satu bulan
Baca juga: BGN: Pengurangan anggaran MBG tajamkan penerima manfaat
Selain itu, lanjut dia, Kemenkes bersama BGN juga akan menganalisis atau melakukan riset hasil terhadap manfaat MBG yang sudah dirasakan oleh penerima manfaat, termasuk salah satunya melalui kontrol di posyandu dalam rangka menurunkan angka stunting.
"Semua anak yang stunting kita ada by NIK, by name, by address (berdasarkan nama dan alamat) sudah ada, kita tandai dia dapat MBG apa enggak. Kita akan bisa ikuti setiap bulan, karena yang bersangkutan ditimbang di Posyandu. Bener-bener naik enggak? Kalau enggak naik kita tahu, 'oh ini kayaknya diberi karbohidrat semua, padahal anak itu kan butuhnya protein hewani', nah, itu bisa diperbaiki," tuturnya.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.