Pemerintah sebut ketidakpastian global kini menjadi

calendar_today 14.07.2026 - person  - timer ~

Pemerintah sebut ketidakpastian global kini menjadi "new normal"

Selasa, 14 Juli 2026 19:38 WIB

Image Print

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan berbicara dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa (14/7/2026). ANTARA/HO-Kemenko Perekonomian

Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan ketidakpastian global kini telah menjadi "new normal" sehingga penguatan tata kelola menjadi semakin penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

"Kita hidup di tengah berbagai ketidakpastian yang mungkin bukan lagi bersifat sementara, tetapi sudah menjadi 'new normal,'" kata Ferry dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan gangguan rantai pasok global telah membentuk risiko yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Ia mencontohkan perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berubah dapat memicu kenaikan harga komoditas dunia, mengubah ekspektasi suku bunga global, serta berdampak pada negara dengan perekonomian terbuka seperti Indonesia.

Meski demikian, Ferry meyakini fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global.

Hal itu, antara lain, tercermin dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang masih mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, sementara Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi sebesar 5,2 persen.

"Ini merupakan sinyal positif bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap memiliki ketahanan yang tinggi meskipun lingkungan global sangat dinamis," katanya.

Untuk menjaga ketahanan tersebut, Ferry menyebut pemerintah bersama otoritas terkait terus memperkuat integritas dan kepercayaan pasar melalui penguatan tata kelola, pendalaman pasar keuangan, serta reformasi sektor keuangan.

Ferry mengatakan reformasi tersebut mencakup perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions/LCT), pengembangan ekosistem emas batangan nasional (national bullion ecosystem), peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta penguatan pembiayaan bagi sektor-sektor produktif.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat tata kelola sumber daya alam melalui penyempurnaan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) serta mendorong transformasi digital, ekonomi hijau, dan kecerdasan buatan sebagai mesin pertumbuhan baru.

Di tingkat internasional, lanjut dia, Indonesia terus memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai forum, antara lain OECD, BRICS, ASEAN, dan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), guna memperkuat daya tahan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026