Jakarta -
Ada kegiatan seru buat para anak kereta di Jabodetabek. Mulai 24 Agustus 2026, KAI bersama KAI Commuter Indonesia menggelar program stempel Railly di 10 stasiun Jabodetabek.
Lewat program ini, penumpang diajak berburu menggunakan untuk mengoleksi stempel yang tersedia di stasiun-stasiun tertentu. Namun, stempel tersebut bukan sekadar cap dengan nama stasiun. Masing-masing memiliki gambar, warna dan makna yang berbeda. Warna merah menjadi penanda stasiun komuter atau stasiun yang disinggahi KRL.
Sementara itu, stempel berwarna biru menjadi penanda kelas stasiun utama yang disinggahi kereta jarak jauh. Gambar pada setiap stempel juga dibuat berdasarkan karakter masing-masing stasiun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada yang mengangkat bentuk bangunan bersejarah, hingga kehidupan masyarakat di sekitar stasiun. KAI kemudian memberikan penjelasan detail kepada detikTravel mengenai makna setiap gambar stempel tersebut.
Simak maknanya biar lebih tahu pas hunting!
Stempel Stasiun Gambir menampilkan gambar kereta api yang melintas dan joglo stasiun. Keduanya menggambarkan pembukaan untuk umum Stasiun Gambir bersamaan dengan peresmian jalur layang Manggarai-Jakarta Kota pada 6 Juni 1992.
Ada pula sosok orang yang membawa koper. Elemen ini mengingatkan bahwa Stasiun Gambir merupakan salah satu stasiun utama di Jakarta. Sementara itu, Monumen Nasional atau Monas turut ditampilkan sebagai penanda lokalitas kawasan.
Pada masa itu, bangunan baru Stasiun Gambir bersama Monas menjadi dua bangunan yang mudah dikenali di jantung Jakarta. Warna hijaunya merupakan warna ikonik di jalur layang yang dirancang bersama Fakultas Seni Rupa ITB. Stasiun Gambir sendiri didominasi warna hijau hingga lantainya yang menggunakan porselen mengilap berwarna serupa.
Stempel Stasiun Pasar Senen menampilkan bangunan utama stasiun yang dahulu bernama Pasar Senen. Stasiun tersebut merupakan stasiun baru yang diresmikan pada 19 Maret 1925. Ada pula gambar tangga yang menjadi representasi terowongan bawah tanah.
Terowongan tersebut memiliki cerita tersendiri karena merupakan terowongan penyeberangan pertama di stasiun yang dibangun di Indonesia.
Stempel Jatinegara menampilkan potret muka bangunan heritage Stasiun Jatinegara yang pada masa lalu bernama Meester Cornelis. Angka 1909 yang ikut muncul dalam gambar merujuk pada tahun pembangunan stasiun baru yang dilaksanakan perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen. Sementara itu, warna oren menjadi penanda kelas stasiun sekunder.
Stempel Stasiun Manggarai membawa cerita penting dalam sejarah Indonesia. Gambar tersebut menggambarkan peran Stasiun Manggarai sebagai stasiun keberangkatan pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Perjalanan rahasia tersebut bermula dari Balai Yasa Yogyakarta. Rombongan menggunakan lokomotif uap C2849 yang disertai delapan kereta api. Kereta tersebut membawa Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan rombongan.
Stempel Stasiun Bogor menampilkan fasad bangunan utama Stasiun Buitenzorg, nama yang digunakan untuk Stasiun Bogor pada masa itu. Bangunan tersebut dihiasi dengan Gunung Salak yang menjadi elemen kuat dalam gambar. Angka 1881 merujuk pada peresmian stasiun beserta jalur Bogor-Cicurug pada 5 Oktober 1881.
Berbeda dari stempel yang banyak mengangkat sejarah bangunan, Stasiun Tanah Abang justru menampilkan kehidupan orang-orang di dalam stasiun. Gambarnya memperlihatkan hiruk pikuk penumpang di peron. Berbagai profesi dan usia digambarkan lalu-lalang di stasiun.
Hal tersebut merepresentasikan Stasiun Tanah Abang sebagai simpul transit yang ramai dan menjadikan kereta api sebagai salah satu moda transportasi pilihan masyarakat.
Stasiun Jakarta Kota dikenal pula dengan nama Stasiun Beos. Nama Beos memiliki dugaan kuat berasal dari BOS atau Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta yang pertama kali mendirikan Stasiun Jakarta Kota.
Stempel-nya menampilkan potret fasad hall Stasiun Jakarta Kota. Bangunan tersebut merupakan bagian dari pembangunan stasiun baru yang diresmikan pada 8 Oktober 1929.
Angka 1925 menjadi salah satu elemen utama dalam stempel Stasiun Tanjung Priok. Angka tersebut merujuk pada tahun peresmian bangunan baru stasiun, tepatnya pada 6 April 1925. Peresmian tersebut bertepatan dengan ulang tahun perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen, sekaligus peluncuran kereta api listrik pertama yang melayani rute Jatinegara-Tanjung Priok.
Stempel juga menampilkan fasad bangunan Stasiun Tanjung Priok yang memiliki gaya art deco.
Stasiun BNI City merupakan nama beken dari Stasiun Sudirman Baru. Gambar kereta rel listrik dan kereta bandara menjadi penanda bahwa stasiun ini melayani perjalanan kereta api bandara sekaligus kereta api listrik. Ada pula potret bunga di atas stasiun.
Bunga tersebut merupakan bagian dari karya seni "Akar Perjalanan" yang menjadikan ruang temu antara mobilitas dan seni.
Stempel Stasiun Universitas Indonesia menampilkan Gedung Rektorat UI yang merupakan salah satu bangunan ikonik Universitas Indonesia. Selain itu, terdapat potret mahasiswa yang sedang membaca, menari dan mengadu asmara. Ketiga aktivitas tersebut menjadi representasi slogan legendaris "Buku, Pesta, dan Cinta". Slogan tersebut menggambarkan dinamika kehidupan mahasiswa UI pada masa lalu dan pernah menjadi bagian dari lirik mars resmi Genderang UI. Sepuluh stempel tersebut ternyata membawa potongan cerita yang berbeda.
Kalau biasanya perjalanan berakhir saat tiba di tujuan, kali ini setiap stasiun punya cerita yang ditampilkan melalui stempel yang sayang untuk dilewatkan.