Pembatasan Kuota Nikel RI Belum Berdampak ke Harga, Ini Pemicunya

calendar_today 16.10.2026 - person  - timer ~

Jakarta, CNBC Indonesia - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai kebijakan pembatasan produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Pemerintah Indonesia belum berdampak besar bagi kenaikan harga global. Hal itu disinyalir imbas dari tingginya tingkat inventori di luar negeri.

Tingkat stok nikel yang masih melimpah di pasar global menahan dampak dari pengetatan pasokan yang dilakukan pemerintah.

Merujuk data Trading Economics pada Kamis (15/10/2026) harga nikel berada di level US$15.137 per ton, melanjutkan tren penurunan setelah sempat mendekati US$20.000 per ton pada Mei 2026.

Trading Economics mencatat harga nikel telah melemah sekitar 5,4% dalam empat pekan terakhir. Tekanan harga terutama dipicu melimpahnya pasokan, sementara prospek permintaan belum cukup kuat untuk menyerap peningkatan produksi global.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan bahwa kebijakan pasokan yang lebih ketat secara teoritis telah berhasil menyeimbangkan kembali pasar domestik. Namun, ia menyebut akumulasi stok nikel di pasar Tiongkok dan London Metal Exchange (LME) masih menjadi pemicu utama tertahannya penguatan harga nikel di tingkat global.

"Akan tetapi inventori di LME dan China, yang mana tahun ini bisa mencapai di atas 600 ribu ton, masih menjadi masalah bagi pasar dan berpotensi membatasi kenaikan harga, ketidakpastian mengenai kebijakan/ peraturan domestik dan global serta kondisi geopolitik juga tetap menjadi perhatian," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (16/10/2026).

FINI mencatat jumlah inventori nikel di LME dan Tiongkok pada tahun ini diperkirakan dapat menembus angka di atas 600 ribu ton. Kondisi penumpukan stok tersebut membentengi pasar global di tengah upaya pemerintah menekan kelebihan pasokan yang terjadi dari tahun-tahun sebelumnya.

"Keseimbangan pasokan dan permintaan nikel sebenarnya telah berubah secara drastis sejak akhir tahun 2025. Kebijakan pasokan yang lebih ketat yang diterapkan Pemerintah Indonesia secara teoritis telah menyeimbangkan kembali pasar - mengurangi kelebihan pasokan/ over supply yang besar yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya," imbuhnya.

Meskipun lonjakan harga masih terganjal stok global, pengetatan pasokan nasional telah memicu peningkatan biaya marginal di tingkat produsen. Perubahan biaya tersebut memberikan dorongan pada prospek harga nikel berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding perkiraan awal.

"Akibat biaya marginal yang lebih tinggi memicu prospek harga kini berada di tingkat yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya," jelasnya.

Pengetatan pasokan tersebut juga berdampak pada penurunan produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 yang diperkirakan berkurang 3,5% hingga 4% dibanding realisasi 2025 nikel yang sebesar 2,5 juta ton. Kendati demikian, Indonesia tetap menjadi pemain kunci dengan menguasai sekitar 60% pasokan nikel dunia.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]