Kepala Pertahanan Sipil Gaza Raed al-Dahshan mengatakan timnya telah menyusun rencana untuk mengevakuasi ribuan jenazah lain yang belum ditemukan. Namun, pekerjaan itu terhambat karena minimnya alat berat.
"Kami tidak memiliki peralatan. Kami juga tidak memiliki alat pelindung bagi para petugas penyelamat," ungkap Dahshan kepada Al Jazeera.
Ia mengatakan sekitar 8.000 jenazah diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan. Jika tersedia peralatan yang memadai, seluruh proses pencarian dan evakuasi diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 90 hari.
"Jika peralatan itu dilarang masuk ke Gaza ... pekerjaan ini akan berlangsung selama bertahun-tahun," ujarnya.
Dahshan mengatakan pihaknya telah menyerahkan daftar terperinci peralatan yang dibutuhkan kepada sejumlah lembaga internasional. Mereka bahkan bersedia jika peralatan tersebut tetap berada di bawah pengawasan internasional dan tidak diserahkan langsung kepada Pertahanan Sipil Gaza.
Menurut dia, tim penyelamat sangat membutuhkan ekskavator berukuran besar, alat pelindung diri, serta peralatan pencarian untuk menemukan sisa-sisa jenazah.
Dalam proses identifikasi, petugas mengandalkan keterangan para penyintas dan keluarga yang tinggal di sekitar lokasi untuk mengetahui siapa saja yang berada di dalam bangunan serta posisi mereka ketika serangan terjadi.
Tim insinyur turut dilibatkan untuk memilah dan mendokumentasikan setiap temuan di lapangan.
Dahshan mengatakan masih ada "puluhan, bahkan ratusan" rumah yang perlu digali. Menurut dia, masih banyak rumah yang harus diperiksa karena pasukan Israel tidak memberikan peringatan kepada warga sebelum serangan.
Kepala Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina yang diduduki, Ajith Sunghay, mengatakan pemandangan tersebut kembali menunjukkan "kebrutalan konflik ini". Sebagian sisa jenazah yang ditemukan bahkan berasal dari korban yang tewas sejak November 2023.
"Ribuan orang masih tertimbun di bawah reruntuhan ... Kita berbicara tentang wilayah-wilayah yang mungkin berada di bawah kendali militer Israel, sekitar 70 persen wilayah Gaza. Akses ke daerah-daerah ini sulit sehingga jenazah yang tertimbun tidak mudah dievakuasi," jelasnya kepada Al Jazeera.
"Pertanggungjawaban harus dilakukan ... Sangat penting bagi kami untuk menjaga bukti-bukti yang berhasil diperoleh selama periode yang sensitif ini."
Otoritas kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 73.651 warga Palestina telah tewas dan 174.592 lainnya terluka sejak serangan Israel pada Oktober 2023.
Dalam beberapa pekan terakhir, operasi pencarian serupa menemukan lebih dari 100 jenazah anggota keluarga Abu Shariah dan Hassaniya yang tewas dalam satu serangan.
Para pejabat dan aktivis juga mengatakan lebih dari 500 jenazah telah ditemukan dari reruntuhan menara Al-Taj.