Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memperingatkan negara-negara yang bergabung dalam tekanan ekonomi Amerika Serikat (AS) bahwa mereka dapat menjadi sasaran pembalasan Teheran. Ancaman ini muncul ketika jalur pelayaran melalui Selat Hormuz semakin terganggu dan Washington bersiap menjatuhkan sanksi baru.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan negara mana pun yang ikut menerapkan pembatasan ekonomi terhadap Iran akan diperlakukan sebagai musuh.
"Negara manapun yang ikut serta dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh," ujarnya kepada lembaga penyiaran negara IRIB, dikutip Al Jazeera, Senin (24/8/2026).
Pilihan Redaksi
Rezaei bahkan memperingatkan negara-negara tetangga Iran agar tidak membantu kampanye ekonomi Presiden AS Donald Trump. Jika mereka tetap bergabung, kata dia, "tidak akan ada satu tetes minyak pun" yang dapat keluar dari kawasan Teluk, termasuk melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz.
Peringatan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran berpotensi memperluas konflik ekonomi menjadi ancaman terhadap jalur energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, yang pada kondisi normal dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dan gas global.
Rezaei mengatakan Iran akan menempuh strategi bertahap. "Tentu saja, kami akan bernegosiasi dengan mereka terlebih dahulu. Kami akan mengadakan pembicaraan dan meminta mereka untuk menepi serta menjaga jarak dari Amerika Serikat," katanya.
Namun, ia menegaskan Teheran akan meningkatkan respons jika peringatan tersebut diabaikan.
"Namun, jika mereka tidak mengambil tindakan, kami akan menyerang. Kami akan menyasar kepentingan negara tersebut," ujar Rezaei.
Peneliti isu Iran dari Clingendael Institute, Hamidreza Azizi, menilai ancaman tersebut merupakan bagian dari upaya Teheran membangun efek gentar sejak dini. Menurutnya, doktrin baru Iran mencakup tindakan preventif untuk mencegah ancaman serta pembalasan yang tidak proporsional guna meningkatkan risiko dan biaya bagi pihak yang menyerang.
Negara-negara Teluk kini berada dalam posisi sulit. Mereka merupakan sekutu AS, tetapi sekaligus bertetangga langsung dengan Iran dan sangat bergantung pada stabilitas jalur pelayaran serta ekspor energi.
Arab Saudi dan Iran bahkan telah menormalisasi hubungan pada 2023 melalui kesepakatan yang dimediasi China, sementara Uni Emirat Arab (UEA) memulihkan hubungan diplomatik dengan Teheran pada 2022.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu mengatakan negaranya kini menghadapi "perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan" dengan AS. Ia mengeklaim Iran justru semakin kuat menghadapi tekanan tersebut dan menolak anggapan Washington bahwa agresi terhadap Teheran akan membuat Iran bernasib seperti Venezuela.
Ancaman terbaru Iran datang setelah Trump menjanjikan "operasi ekonomi paling menghancurkan" terhadap Teheran dan memperingatkan negara mana pun yang memberikan jalan keluar bagi ekonomi Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menegaskan, "Anda berada di pihak kami atau melawan kami," ketika mendesak China, pembeli lebih dari 80% pengiriman minyak Iran, untuk ikut menekan Teheran.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]