Surabaya (ANTARA) - Pelatih PSIM Jean-Paul van Gastel menyebut kartu merah kepada Adrian Purzycki mengubah jalannya pertandingan sehingga Laskar Mataram menyerah 0-1 kepada Persebaya.
“Babak pertama berjalan seimbang, dan saya rasa permainan berubah ketika kami mendapat kartu merah setelah menit awal babak kedua,” kata Jean-Paul dalam konferensi pers setelah pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Minggu.
Ia menilai ketimpangan itu membuat Laskar Mataram harus lebih banyak bertahan meski mampu meredam tekanan Persebaya yang banyak mengandalkan umpan silang.
Pelatih asal Belanda itu menilai para pemainnya mampu menjalankan tugas bertahan dengan baik meski harus menghadapi tekanan Persebaya setelah bermain dengan 10 orang.
Menurut dia, kondisi tersebut juga menjadi alasan untuk tidak terburu-buru mengganti pemain karena sebagian besar pemain masih bugar dan mampu menjalankan strategi yang diterapkan.
Jean-Paul hanya menarik keluar Safio Sheva yang mengalami kram.
Baca juga: Persebaya akui kesulitan lawan 10 pemain PSIM
Ia mengatakan situasi baru berubah setelah Persebaya mencetak gol pada menit ke-81 sehingga PSIM harus mengambil risiko lebih besar untuk mengejar ketertinggalan.
“Ketika Anda kebobolan, anda harus mencoba mencetak gol, itulah sebabnya kami memasukkan tenaga baru,” ucapnya.
Kiper PSIM Cahya Supriadi mengakui pertandingan menghadapi Persebaya cukup berat bagi timnya, terutama setelah harus bermain dengan sepuluh pemain.
“Mungkin pertandingan ini cukup berat juga untuk kami, tapi saya ucapkan selamat untuk Persebaya yang bermain bagus dan kami juga bisa memberikan perlawanan,” kata Cahya.
Ia menilai rekan-rekannya tetap berusaha memberikan perlawanan meski situasi pertandingan tidak mudah setelah kehilangan satu pemain pada babak kedua.
Dia berharap hasil laga ini menjadi bahan evaluasi PSIM untuk tampil lebih baik pada pertandingan berikutnya melawan Madura United.
Baca juga: Persebaya targetkan juara musim ini
Pewarta: Indra Setiawan/Naufal Ammar Imaduddin
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.