Jumat, 7 Agustus 2026 - 00:01 WIB
Depok, VIVA – Di balik kasus pembunuhan disertai mutilasi yang menggegerkan Depok, muncul cerita dari tempat terakhir Saepul alias Saepullah (26) mencari nafkah.
Baca Juga
Sebelum ditangkap sebagai tersangka pembunuhan terhadap Kunaefi (51), pria yang diduga gay tersebut diketahui sempat bekerja di sebuah UMKM penjual pisang cokelat (piscok) di kawasan Stasiun Pondok Cina (Pocin).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pemilik usaha mengaku baru menyadari keterkaitan mantan pegawainya dengan kasus tersebut setelah melihat pemberitaan mengenai kronologi pembunuhan.
Baca Juga
Ada satu hal yang menurutnya menjadi perhatian, yakni waktu Saepul mengundurkan diri dari pekerjaannya yang berdekatan dengan hari kejadian. Menurut pemilik UMKM, Saepul bergabung sekitar satu hingga satu setengah bulan sebelum akhirnya memilih keluar dari pekerjaannya.
“Perkiraan gabung sekitar sebulanan sampai sebulan setengah,” kata pemilik UMKM kepada wartawan, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
Baca Juga
Selama bekerja, Saepul dipercaya menangani bagian menggoreng pisang cokelat. Ia mengaku tidak pernah melihat gelagat aneh dari pria tersebut.
“Selama bekerja tidak menunjukkan gesture over active. Normal, fokus kerja. Dia bagian goreng, bukan produksi,” ujarnya.
Hal yang paling diingat pemilik usaha adalah ketika Saepul meminta izin pada 22 Juli 2026. Saat itu, ia mengaku hendak mengikuti wawancara kerja di sebuah food court di salah satu mal yang ada di Margonda Depok.
“Tanggal 22 Juli dia izin interview, ambil libur,” katanya.
Tak lama setelah itu, tepat pada 23 Juli 2026, Saepul menyampaikan pengunduran diri.
“Tanggal 23 dia resign,” ujarnya.
Belakangan, pemilik usaha mengaku terkejut setelah mengetahui tanggal tersebut bertepatan dengan waktu yang dalam pemberitaan disebut sebagai hari terjadinya dugaan pembunuhan terhadap Kunaefi.
“Kalau dari media yang kita baca, tanggal tersebut adalah tanggal kejadian,” katanya.
Meski mantan pegawainya kini terseret perkara pembunuhan disertai mutilasi, ia berharap masyarakat tidak mengaitkan kasus tersebut dengan usahanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Untuk penikmat piscok, kami berharap tetap menjadi penikmat piscok tanpa rasa takut. Semua proses produksi dilakukan dengan baik, terpisah antara lapangan dan produksi,” ujarnya.
Sebagai bentuk keterbukaan, pihak UMKM juga membuka saluran pengaduan bagi masyarakat apabila menemukan hal-hal yang dianggap tidak wajar.
Halaman Selanjutnya
“Kalau menemukan hal janggal, bisa melakukan pengaduan di nomor yang ada di bio Instagram,” katanya.