Kamis, 16 Juli 2026 - 14:32 WIB
Padang, VIVA – Polisi mengungkap fakta baru di balik aksi pelajar berinisial R (17) yang diduga meledakkan bom rakitan di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatra Barat.
Baca Juga
Dari hasil pendalaman sementara, remaja tersebut mengaku telah menjadi korban perundungan atau bullying selama sekitar satu tahun di sekolahnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatra Barat Komisaris Besar Polisi Susmelawati Rosya mengatakan, dugaan aksi yang dilakukan R merupakan akumulasi dari tekanan psikologis yang dialaminya.
Baca Juga
"Kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam," ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurut Susmelawati, R mengaku mulai mengalami perundungan sejak duduk di kelas XI dan berlanjut hingga kini saat memasuki kelas XII. Namun, polisi masih mendalami bentuk perundungan yang dialami pelajar tersebut.
Baca Juga
Selain itu, hasil pemeriksaan menunjukkan R mempelajari cara merakit bom secara mandiri melalui internet sejak Ramadan hingga April 2026. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bom rakitan juga disebut dibeli secara daring.
"Memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri," ucap Susmelawati.
Meski demikian, polisi memastikan sejauh ini tidak ditemukan indikasi bahwa R terpapar jaringan terorisme. Penyidik menyebut pelaku bertindak sendiri dan tidak terafiliasi dengan kelompok tertentu.
Saat ini, kepolisian akan memprioritaskan rehabilitasi psikologis terhadap R agar tidak semakin terpapar pengaruh negatif. Pendampingan juga diberikan kepada para korban dan warga sekolah yang terdampak insiden tersebut.
"Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini sedang menjadi prioritas utama," tutur dia.
Sebelumnya diberitakan, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap fakta awal di balik ledakan yang terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Koto Tangah, Padang, Sumatra Barat, Selasa, 14 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Polisi menduga ledakan berasal dari bom rakitan yang dibuat seorang pelajar berinisial R (17). Dari hasil pemeriksaan sementara, remaja tersebut mengaku belajar merakit bahan peledak melalui internet dan terinspirasi dari peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 2025.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana mengatakan, penyelidikan bermula setelah petugas keamanan sekolah menemukan benda mencurigakan yang kemudian diduga berkaitan dengan sumber ledakan.
Halaman Selanjutnya
Dalam proses penyelidikan, polisi turut mengamankan sejumlah barang dari pelajar tersebut.