Bagikan:
JAKARTA - Wakil Koordinator Khusus untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov pada Hari Selasa memperingatkan, "Tepi Barat berada di ambang kehancuran."
Berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov mengatakan hingga 10 Agustus, 76 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat pada tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur.
Sedangkan sepanjang tahun 2026 ini, sekitar 3.800 warga Palestina - hampir separuhnya anak-anak - mengungsi akibat kekerasan oleh pemukim Israel, pembongkaran bangunan dan penggusuran.
"Kekerasan oleh pemukim telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegasnya, seraya mencatat PBB telah mendokumentasikan lebih dari 1.430 insiden tahun ini yang berdampak pada sekitar 260 komunitas Palestina, melansir WAFA (12/8).
"Polanya jelas," ujarnya, seraya menambahkan warga Palestina dipaksa mengungsi dari berbagai wilayah di Tepi Barat, sebelum para pemukim mengambil alih lahan yang ditinggalkan tersebut.
Ia mencatat, serangan oleh pemukim Israel, yang sebelumnya terkonsentrasi di Area C, kini semakin sering dilaporkan terjadi di Area B dan bahkan Area A.
Dewan Keamanan PBB menggelar sidang ini - yang kedua dalam kurun waktu dua minggu di tengah meningkatnya kekerasan yang berdampak pada warga Palestina di Tepi Barat - atas permintaan anggota Dewan Eropa, dengan dukungan dari Bahrain, Tiongkok, Pakistan, dan Federasi Rusia.
Sementara itu, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Hannan Sulieman menceritakan kisah seorang nenek di Tepi Barat yang takut meninggalkan rumahnya setelah sebuah granat dilemparkan ke dapur rumahnya saat cucu-cucunya berada di dalam.
"Ruang-ruang mendasar bagi masa kanak-kanak—rumah, ruang kelas, jalanan, dan lingkungan masyarakat—kian menjadi tempat yang tidak aman," ia memperingatkan.
Antara Januari 2024 dan Juli 2026, sebanyak 174 anak Palestina terverifikasi tewas akibat konflik di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, menurut data PBB "lebih dari satu anak setiap minggunya," ujarnya sebagai gambaran situasi.
Lebih dari 1.500 anak terluka hampir separuhnya akibat peluru tajam. Dalam periode yang sama, 3 anak Israel tewas dan 15 lainnya terluka.
Ia juga mengungkapkan 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel "jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir".
Sulieman mendesak Dewan Keamanan PBB untuk melindungi anak-anak, menghentikan pengusiran paksa keluarga-keluarga Palestina, melindungi akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, serta menjamin kelancaran operasi kemanusiaan.
"Anak-anak di Tepi Barat memiliki hak yang sama dengan anak-anak di mana pun," tegasnya.
"Hak untuk hidup, belajar, dilindungi, dan membayangkan masa depan yang bebas dari kekerasan dan ketakutan," tandas Sulieman.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+