Jakarta -
Ada satu elemen yang nyaris tak terpisahkan dari penampilan Soekarno: peci hitam. Penutup kepala itu menjadi bagian dari citra visual sang Proklamator, baik ketika tampil di hadapan rakyat maupun dalam berbagai momen kenegaraan.
Namun, bagi Bung Karno, peci bukan sekadar aksesori pelengkap busana. Jauh sebelum Indonesia merdeka, peci telah ia pilih sebagai simbol identitas, nasionalisme, sekaligus bentuk keberpihakan kepada rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna tersebut menjadi semakin kuat ketika pada 17 Agustus 1945, Soekarno berdiri di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, untuk membacakan Proklamasi Kemerdekaan. Saat itu, ia mengenakan setelan putih-putih lengkap dengan peci hitam.
Peci yang telah melekat pada penampilan Soekarno selama bertahun-tahun itu pun hadir dalam salah satu momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Kisah mengenai awal mula presiden pertama RI itu memakai peci diceritakan dalam buku semi-autobiografi 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams yang pertama kali terbit pada 1966.
@wolipopofficial Happy Independence Day! 🥳🇮🇩 Setiap 17-an, pasti sering muncul video Bung Karno lagi pidato. Dan.. ada satu aksesoris yang selalu melekat sama dirinya, yaitu peci hitamnya. Penasaran gak, apa sih sebenernya filosofi dari peci tersebut? 🧐 Creator: Daniel Ngantung Editor: Esty Rahayu #Wolipop #PeciBungKarno #17Agustus ♬ original sound - wolipop
Dalam buku tersebut, Soekarno mengisahkan pengalamannya pada 1921 ketika terlibat dalam pergerakan pemuda. Saat itu, sebagian kaum intelektual justru memandang rendah pakaian yang dikenakan rakyat biasa, termasuk blangkon dan peci atau songkok. Mereka lebih memilih bergaya seperti orang Barat untuk menunjukkan status dan pendidikan mereka.
Soekarno mengambil sikap berbeda. Ia memutuskan memakai peci beludru hitam yang saat itu identik dengan rakyat biasa. Dalam autobiografinya, ia menyebut peci sebagai bagian dari identitas yang kemudian menjadi "lambang kebangsaan".
Rengasdengklok berkaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di sana terdapat rumah yang pernah disinggahi Soekarno-Hatta jelang proklamasi kemerdekaan. (Foto: ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar)
Keputusan tersebut bukan tanpa keraguan. Soekarno bahkan menceritakan kegugupannya sebelum masuk ke sebuah pertemuan dengan mengenakan peci. Namun, ia kemudian memantapkan diri dengan pemikiran bahwa seorang pemimpin tidak dapat memimpin massa jika tidak mau masuk ke dalam lingkungan mereka.
"Orang-orang ini bodoh dan perlu belajar bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak, jika tidak menjatuhkan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang juga yang melakukan ini di antara kaum terpelajar, aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata," kata Sukarno dalam buku tersebut.
Dalam narasinya, Soekarno juga menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan simbol kepribadian sendiri. Peci yang dikenakan para pekerja dan rakyat dianggapnya dapat menjadi salah satu simbol tersebut. Ia bahkan mengaitkannya secara langsung dengan cita-cita Indonesia Merdeka.
Bagi Soekarno, peci lantas bukan sekadar pilihan gaya. Ia menjadikannya sebagai pernyataan identitas.
Jika dilihat dari perspektif fashion masa kini, gaya Soekarno juga menarik untuk dibaca sebagai bentuk power dressing.
Ia kerap tampil dengan jas, kemeja, celana panjang, dan dasi yang mencerminkan busana formal modern pada zamannya. Namun, penampilan tersebut tidak sepenuhnya mengikuti gaya Barat.
Presiden Soekarno bertemu Presiden AS John F. Kennedy di Washington D.C. pada 1961. (Foto: Keystone/Getty Images)
Dan di atas semuanya itu, ada peci hitam yang memberikan karakter Indonesia pada keseluruhan penampilannya. Di sinilah kekuatan gaya Bung Karno: jas memberikan kesan formal dan berwibawa, sementara peci membawa simbol identitas dan kedekatan dengan rakyat.
Dengan kata lain, power dressing Bung Karno tidak hanya berbicara tentang kekuasaan. Ia juga berbicara tentang siapa yang ia wakili. Paduan tersebut membuat penampilannya terlihat relevan dan berwibawa, tetapi tidak sepenuhnya menciptakan jarak dengan masyarakat.
Makna tersebut terasa semakin kuat jika melihat kembali penampilan Soekarno pada 17 Agustus 1945.
Pagi itu, setelah malam sebelumnya merumuskan teks Proklamasi dan dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, Soekarno bersiap menuju tempat pembacaan Proklamasi. Sekretariat Negara mencatat Soekarno mengenakan setelan putih-putih ketika menuju halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56.
Ir. Soekarno saat memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. (Foto: Istimewa)
Dalam berbagai dokumentasi sejarah, penampilannya pada saat membacakan Proklamasi terlihat dengan jas putih dan peci hitam. Di sampingnya berdiri Mohammad Hatta dengan setelan putih serupa, tetapi tanpa peci.
Kontras tersebut membuat peci semakin menonjol secara visual. Pada hari ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Soekarno tidak tampil dengan seragam militer ataupun atribut yang menunjukkan kekuasaan formal.
(dtg/dtg)