PBB Sepakat Peta Baru, Afrika Tak Lagi Tampak Kecil

calendar_today 05.09.2026 - person  - timer ~

Liputan6.com, Jakarta - Peta dunia menggambarkan ukuran negara berubah. Penggunaan peta baru dunia itu setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui penggunaan peta dunia lebih akurat dalam menggambarkan ukuran Afrika.

Keputusan Majelis Umum PBB tersebut tertuang dalam resolusi 'Correct the Map' diputuskan Jumat (4/9/2026), sebagaimana dilansir dari thenationalnews pada Sabtu (5/9/2026).

Dalam keputusannya, Majelis Umum PBB mendukung resolusi menyerukan peralihan dari proyeksi Mercator yang selama ini digunakan untuk menggambarkan peta dunia. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menentang resolusi tersebut.

164 negara mendukung resolusi diajukan Togo dan didukung Uni Afrika tersebut dengan enam abstain, dan satu suara menolak dari Amerika Serikat.

Resolusi tersebut mendorong negara-negara anggota PBB, organisasi internasional, dan pihak lainnya untuk mempromosikan penggunaan peta yang lebih akurat dalam menggambarkan perbandingan ukuran benua, khususnya Afrika.

Proyeksi Mercator dikembangkan pada abad ke-16 dan hingga kini masih banyak digunakan. Proyeksi ini mendistorsi ukuran daratan, terutama wilayah yang berada dekat kutub, sehingga Afrika terlihat lebih kecil dibandingkan kawasan seperti Eropa dan Amerika Utara.

"Keberlangsungan distorsi ini dalam peta telah menimbulkan konsekuensi signifikan dari waktu ke waktu," kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey dalam sidang Majelis Umum PBB.

Menurut Dussey, penggunaan Mercator tersebut turut berkontribusi pada pengecilan secara simbolis ukuran Afrika, serta wilayah lainnya, yang menciptakan pandangan yang tidak seimbang mengenai geografi dunia.

Namun Dussey menegaskan kampanye tersebut tidak sekadar menyangkut persoalan kartografi.

"Ini berkaitan dengan keadilan kognitif, akses terhadap pengetahuan geografis yang akurat, martabat masyarakat, dan memori sejarah," ujar dia.

Resolusi tersebut juga menyerukan kerja sama antara badan-badan PBB, organisasi regional, kalangan akademisi, lembaga pemikir, dan kelompok teknologi untuk memperkuat kemampuan pemetaan nasional serta mendukung penelitian dan inovasi, khususnya di negara-negara berkembang dan Afrika.