Jakarta, CNN Indonesia --
ParagonCorp memperluas eksplorasi ilmiah terhadap nilam Aceh untuk memahami potensi lain yang dapat dikembangkan bagi aplikasi kosmetik, termasuk skincare. Langkah ini dilakukan bersama Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) melalui penelitian terhadap patchouli alcohol crystal.
Komponen yang berasal dari minyak nilam Aceh tersebut saat ini tengah dikaji sebagai kandidat natural active ingredient. Sebelumnya, nilam lebih dikenal luas sebagai salah satu bahan penting dalam industri fragrance.
Sebagai perusahaan yang menyebut dirinya purposeful beauty tech company, ParagonCorp menempatkan rasa ingin tahu ilmiah sebagai bagian penting dari proses inovasi. Pendekatan ini tidak berhenti pada pemanfaatan yang sudah diketahui, melainkan terus mencari kemungkinan baru dari sumber daya yang tersedia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, Sari Chairunnisa, menjelaskan bahwa satu temuan riset kerap memunculkan pertanyaan lanjutan. Hal itu yang mendorong pihaknya memperluas kajian terhadap nilam.
"Dalam riset, satu pengetahuan sering kali membuka pertanyaan berikutnya. Ketika sebelumnya kami mempelajari patchouli dalam konteks fragrance, muncul pertanyaan lain, apakah masih ada potensi dari bahan yang sama yang belum kita pahami? Bagi ParagonCorp, rasa ingin tahu seperti inilah yang mendorong research untuk terus bergerak," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8).
Eksplorasi ini membawa nilam Aceh ke konteks yang lebih luas. Bahan alam tersebut tidak hanya diposisikan sebagai sumber bahan baku yang telah dikenal, tetapi juga sebagai objek penelitian untuk membuka kemungkinan pengembangan bahan kosmetik baru.
Dalam kolaborasi ini, ARC USK berperan membawa keahlian di bidang penelitian nilam, minyak atsiri, dan bahan alam. Sementara ParagonCorp berkontribusi melalui kapabilitas riset dan pengembangan kosmetik serta pemahaman terhadap kebutuhan industri beauty.
Pertemuan dua keahlian tersebut membuka ruang untuk mengkaji karakteristik dan potensi patchouli alcohol crystal secara lebih mendalam. Kajian ini dilakukan sebelum menentukan arah pengembangan berikutnya.
Bagi ParagonCorp, pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya melihat sumber daya lokal bukan semata sebagai bahan baku. Sumber daya tersebut diposisikan sebagai titik awal untuk membangun pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang besar, termasuk nilam yang menjadi bagian dari potensi sumber daya daerah seperti Aceh. Namun, kekayaan tersebut memerlukan proses yang menghubungkan sumber daya lokal dengan penelitian, bukti ilmiah, dan kapabilitas industri agar dapat menghasilkan nilai lebih besar bagi ekosistem nasional.
Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK), Syaifullah Muhammad, menuturkan bahwa eksplorasi bahan alam tidak pernah selesai hanya dengan mengetahui satu manfaat. Menurutnya, pemahaman yang lebih dalam terhadap suatu komponen dapat memunculkan pertanyaan baru bagi arah penelitian selanjutnya.
"Karena itu, kami melihat nilam bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan peluang inovasi," ucap dia.
Sebagai informasi, penelitian terhadap patchouli alcohol crystal saat ini masih berada pada tahap eksplorasi. Selain menelaah potensinya sebagai kandidat bahan aktif alami untuk kosmetik, penelitian ini juga membuka ruang untuk mengembangkan metode yang dapat mendukung riset bahan aktif di masa mendatang.
Karena penelitian masih berlangsung, berbagai potensi yang ditemukan tetap memerlukan pengujian dan validasi ilmiah lebih lanjut. Eksplorasi ini karena itu belum diarahkan pada kesimpulan mengenai manfaat final atau klaim produk tertentu.
Prosesnya masih menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman ilmiah yang lebih kuat terhadap nilam Aceh. Dari daerah asalnya, nilam berpotensi berkembang dari sumber daya lokal menjadi objek penelitian yang menghasilkan pengetahuan baru bagi industri beauty di Indonesia.
Bagi ParagonCorp, perjalanan riset ini mencerminkan bagaimana kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri dapat menciptakan nilai yang lebih besar dalam ekosistem inovasi. Kolaborasi ini tidak hanya diarahkan pada produk beauty, tetapi juga pada penguatan sains, peneliti, sumber daya lokal, teknologi, dan industri sebagai fondasi bagi masa depan industri kecantikan Indonesia.
(rir)