Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa mengatakan, capaian perusahaan saat ini tidak boleh membuat organisasi berpuas diri.
Menurutnya, tantangan industri sawit ke depan akan semakin kompleks, mulai dari fluktuasi harga komoditas, tuntutan pasar global terhadap praktik keberlanjutan, hingga kebutuhan meningkatkan efisiensi operasional.
Baca Juga: PalmCo Gelontorkan Rp1,3 Miliar untuk Sekolah di Pelosok Saat Ajaran Baru
"Dari sisi laba terhadap aset, kita nomor dua di dunia. Bicara kelestarian dan keberlanjutan, ranking kita juga nomor dua di dunia. Tapi kemudian kita berpikir, kalau sudah begitu mau apa lagi? Itu belum cukup," ujar Jatmiko di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Jatmiko menilai keberhasilan perusahaan justru meningkatkan ekspektasi berbagai pemangku kepentingan terhadap PalmCo. Karena itu, regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu fondasi penting agar perusahaan mampu mempertahankan kinerja sekaligus menjawab tantangan industri di masa mendatang.
Menurut Jatmiko, peningkatan daya saing tidak cukup hanya mengandalkan pencapaian bisnis saat ini. Perusahaan juga harus membangun budaya continuous improvement melalui inovasi yang lahir dari seluruh lapisan organisasi, termasuk para talenta muda.
"Ekspektasi terhadap kita akan semakin tinggi. Karena itu, setiap insan PalmCo harus terus mencari ruang perbaikan. Inovasi tidak selalu harus besar, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi perusahaan," katanya.
Dalam pembekalannya, Jatmiko juga menekankan pentingnya membangun karakter pemimpin yang tangguh. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti terbentuknya berlian yang lahir melalui tekanan tinggi.
"Untuk berubah, seringkali yang paling mudah adalah dengan tekanan. Tidak ada barang bagus yang lahir tanpa tekanan. Contohnya tembaga dan berlian. Berlian yang ukurannya kecil bisa sangat mahal karena dibentuk oleh tekanan ribuan derajat dan bar," ujarnya.
Selain memiliki daya tahan, para calon pemimpin juga dituntut berani mengambil keputusan yang terukur. Jatmiko menegaskan inovasi harus dibangun melalui pendekatan calculated risk, yakni keberanian mengambil peluang yang telah mempertimbangkan berbagai risiko secara matang.
"Apakah inovasi itu berarti nekat? Tidak. Itu namanya calculated risk, risiko yang sudah diperhitungkan. Jadi kalau kita mau melompat, selama kita dengan hati bersih untuk rakyat, kita lompat. Tapi harus dihitung, melompat jangan sampai jatuh, tidak boleh sembarangan," tegasnya.
Baca Juga: PalmCo Kebut Sertifikasi 5.120 Pekerja, SDM Jadi Kunci Daya Saing Sawit
Dirinya menambahkan, sebagai perusahaan perkebunan negara, PalmCo tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan industri sawit nasional yang menjadi salah satu sektor strategis perekonomian Indonesia.
"Keberhasilan kita hari ini bukan berarti membuat kita diapresiasi untuk kemudian dibiarkan hidup tenang. Tidak. Justru kita kini dianggap dan diharapkan bisa menjadi motor penggerak dari sawit nasional," kata Jatmiko.