Pakar: Teknologi AI tak ambil alih tanggung jawab ilmiah peneliti

calendar_today 17.07.2026 - person  - timer ~

Pakar: Teknologi AI tak ambil alih tanggung jawab ilmiah peneliti

Jumat, 17 Juli 2026 17:08 WIB

Image Print

Workshop dan coaching clinic bertajuk "Academic Writing with AI: Pemanfaatan Artificial Intelligence secara Etis untuk Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah" di Yogyakarta. Kamis (16/7/2026) (ANTARA/HO-Humas UMBY)

Yogyakarta (ANTARA) - Akademisi sekaligus peneliti Universitas Mercu Buana Yogyakarta Martaria Rizky Rinaldi menyatakan teknologi artificial inteligence (AI) atau kecerdasan buatan, tidak mengambil alih tanggung jawab ilmiah dari seorang peneliti yang melakukan riset.

"Kehadiran kecerdasan buatan memang mempercepat pekerjaan penelitian, namun teknologi ini sama sekali tidak mengambil alih tanggung jawab ilmiah dari seorang peneliti," katanya, dalam keterangan di Yogyakarta, Jumat.

Pada lokakarya dan bimbingan teknis bertajuk "Academic Writing with AI: Pemanfaatan Artificial Intelligence secara Etis untuk Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah", Martaria menyoroti perubahan signifikan paradigma riset antara metode tradisional dan metode yang dibantu AI.

"Pada tahap pencarian literatur, jika dahulu peneliti harus mencari artikel satu per satu secara manual, kini AI aktif membantu mengembangkan kata kunci dan memetakan literatur sehingga pencarian jauh lebih luas dan terstruktur," katanya.

Dalam hal pemahaman pustaka, peneliti tidak perlu lagi membaca keseluruhan artikel secara manual untuk menemukan esensi tulisan, karena AI dapat menyaring informasi awal dan memberi ringkasan cepat, sehingga peneliti tahu artikel yang relevan untuk diulas lebih dalam.

Bahkan, pada tahapan penulisan dan revisi, kecerdasan buatan mampu mengevaluasi struktur dan tingkat keterbacaan sejak awal serta memberikan umpan balik langsung (real-time) saat naskah dikembangkan.

"Hal ini sangat menghemat waktu dibandingkan cara lama, di mana revisi kebahasaan biasanya baru dilakukan setelah naskah selesai diketik seluruhnya," katanya.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Magelang Muji Setiyo mengatakan, naskah publikasi yang memiliki daya pikat dan selalu dicari oleh editor adalah naskah yang pembahasannya mampu membantah atau memperbarui temuan-temuan sebelumnya.

"AI hadir bukan untuk mengganti isi pikiran peneliti, melainkan mengefisienkan pekerjaan teknis. Namun, peneliti tidak boleh lupa untuk selalu melakukan human verification atau verifikasi fakta secara manual," katanya.

Menurut dia, sebelum menyusun publikasi, peneliti wajib mampu menjawab lima rumusan penting di dalam naskahnya, dan harus bisa menjelaskan alasan kuat mengapa riset tersebut dilakukan serta memaparkan kegelisahan ilmiah yang mendorong penulisan artikel tersebut.

"Peneliti dituntut untuk menguraikan metode risetnya dengan menonjolkan kebaruan pendekatan dibandingkan studi-studi terdahulu. Pada akhirnya, seluruh gagasan harus bermuara pada kemampuan peneliti menyajikan cerita dan sudut pandang baru," katanya.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMBY Nanang Khuzaini mengatakan, workshop tersebut diinisiasi untuk meluruskan persepsi para akademisi mengenai peran kecerdasan buatan dalam penulisan ilmiah.

"Ini untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana kita menggunakan AI dalam penulisan ilmiah secara tepat. Mungkin ada sebagian dosen yang menganggap AI kurang etis untuk digunakan, padahal sebenarnya AI adalah 'tools' atau alat bantu yang bisa kita manfaatkan," katanya.

Melalui acara itu, pihaknya berharap para dosen dapat mengoptimalkan kecerdasan buatan untuk mendongkrak kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah secara bermartabat dan senantiasa menjunjung tinggi kode etik akademik.

Pewarta: Hery Sidik
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026