Obama Ungkap Rencananya Jika Maju Capres di Pemilu 2028

calendar_today 14.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dikabarkan menyampaikan visi besarnya untuk masa depan dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat. Dalam kesempatan tersebut, Obama menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau AI sebagai isu terpenting yang harus dihadapi Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan.

Pandangan itu kemudian dipandang sebagai sinyal kuat bahwa ia berencana terlibat lebih banyak dalam pemilihan presiden tahun 2028, dikutip dari laporan Politico, Senin (14/9/2026).

Obama menyatakan pengembangan AI bakal menjadi "salah satu agenda utama saya" jika dirinya maju sebagai calon presiden.

"Saya akan punya rencana yang jelas, saya mau terus berbicara soal ini, dan saya akan membeberkan rencana soal keselamatan, ini rencana kami untuk memastikan anak-anak tidak terdampak," katanya, seperti dikutip oleh Politico dan The New York Times, Senin (14/9/2026).

Pilihan Redaksi

  • Pemilik ChatGPT Ketahuan Mencuri Riset Ilmuwan, Klaim Hasil Karya AI
  • Dapat Duit Rp 56,4 Triliun, Bisnis Baru Indosat Siap Panen Dolar
  • Cara Bikin Foto AI Gaya Bollywood 1980-an, Contek Prompt Buat ChatGPT

Obama menyampaikan bahwa arah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan saat ini sangat menentukan nasib bangsa Amerika Serikat di masa depan. Ia menegaskan bahwa jika tidak diatur dengan tepat, kemajuan teknologi tersebut justru dapat memperlebar kesenjangan sosial, menggantikan lapangan kerja, dan mengancam kebebasan masyarakat.

Dalam pidatonya, Obama menekankan bahwa kemajuan kecerdasan buatan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang terkaya di Silicon Valley. Teknologi tersebut harus diatur agar bermanfaat bagi seluruh rakyat, mulai dari perlindungan pekerjaan, kesetaraan akses, hingga pencegahan penyalahgunaan data pribadi masyarakat.

"Ini bukan sekadar soal teknologi," ujar Obama. "Ini soal siapa yang memegang kendali, siapa yang mengambil keuntungan, dan siapa yang dilindungi oleh aturan tersebut. Jika kita membiarkan hal ini berjalan tanpa arah, maka yang akan terjadi adalah semakin kaya mereka yang sudah kaya, dan semakin tertinggal mereka yang kurang beruntung."

Obama bahkan membandingkan AI dengan ancaman teknologi nuklir. Perbedaannya, menurutnya, AI tidak memiliki batasan alami dan fisik seperti nuklir. Pengembangan AI kini juga ada di tangan pihak swasta, bukan negara.

Wakil rakyat AS di Kongres telah berusaha menyusun UU untuk memperlambat atau membatasi pengembangan AI. Namun, berulang kali gagal. Salah satu perdebatan kunci di Senat AS adalah soal seberapa besar tanggung jawab yang harus ditanggung perusahaan pengembang AI terkait dampak hingga kerugian dari produk ciptaannya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku tidak peduli terhadap ancaman AI. Fokus satu-satunya Trump soal AI adalah AS mengalahkan China.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]