NIH Petakan Sel Senesen, Buka Jalan Riset Terapi Penyakit Terkait Usia

calendar_today 17.07.2026 - person  - timer ~

Bagikan:

JAKARTA - Konsorsium riset yang didanai National Institutes of Health atau NIH menyusun atlas komprehensif pertama sel senesen di berbagai jaringan tubuh manusia. Pemetaan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan terapi yang lebih terarah untuk penyakit terkait usia.

NIH dikutip dari laman resminya Jumat, 17 Juli, menyebut hasil riset tersebut dimuat dalam kumpulan makalah pada jurnal Cell edisi 11 Juni. Sel senesen adalah sel yang berhenti membelah, tetapi tetap aktif di dalam tubuh.

Sel ini tidak selalu merugikan. Pada jaringan sehat, sel senesen membantu penyembuhan luka dan menjadi bagian dari mekanisme tubuh yang mencegah pertumbuhan tumor.

Masalah muncul ketika sel tersebut menumpuk seiring bertambahnya usia. Dalam kondisi normal, sel senesen dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, kemampuan itu dapat menurun pada usia lanjut.

Sel yang tidak dibersihkan kemudian dapat melepaskan sinyal berbahaya yang ikut berkontribusi terhadap penyakit kronis dan gangguan terkait usia.

Hasil penelitian menunjukkan penghilangan sel senesen dapat mengurangi dampak penuaan. Namun, sel tersebut sulit diteliti karena jumlahnya sedikit dan sifatnya sangat beragam.

BACA JUGA:


Untuk menjawab masalah tersebut, NIH Common Fund meluncurkan Cellular Senescence Network atau SenNet pada 2021. Program itu bertugas mengenali, memetakan, dan mengelompokkan sel senesen di seluruh tubuh manusia.

Peneliti SenNet kini memperkenalkan istilah senotipe. Istilah ini digunakan untuk mengelompokkan sel senesen berdasarkan lokasi, jenis jaringan, kondisi kesehatan, dan lingkungan di sekitarnya.

Wakil Direktur NIH untuk Koordinasi Program, Perencanaan, dan Inisiatif Strategis, Nicole Kleinstreuer, mengatakan pemetaan itu diperlukan untuk membedakan sel yang merugikan dan sel yang masih bermanfaat.

“Pengetahuan ini dapat membantu peneliti mengembangkan terapi yang lebih terarah, dengan menyasar sel berbahaya tanpa menghilangkan sel yang bermanfaat,” kata Kleinstreuer.

Atlas SenNet sejauh ini telah memetakan sel senesen pada sejumlah jaringan, termasuk korteks prefrontal otak, paru-paru, dan kelenjar getah bening.

Korteks prefrontal adalah bagian depan otak yang berkaitan dengan fungsi berpikir dan pengambilan keputusan.

Konsorsium juga mengembangkan perangkat komputasi untuk mengenali ciri biologis khas sel senesen.

NIH juga menyebut peneliti menemukan penanda dalam darah yang dalam studi penuaan manusia dapat memprediksi penyakit ginjal, kerapuhan fisik, dan risiko diabetes pada masa depan.

Penanda biologis atau biomarker adalah ciri terukur dalam tubuh yang dapat memberi petunjuk mengenai kondisi kesehatan atau risiko penyakit.

Riset ini juga menggunakan analisis sel tunggal, omik spasial, dan kecerdasan buatan. Omik spasial merupakan metode untuk mempelajari molekul dan sel berdasarkan letaknya di dalam jaringan.

Metode tersebut dibutuhkan karena sel senesen jarang ditemukan dan sulit dikenali di antara beragam sel dalam jaringan manusia.

Riset tersebut juga mencakup identifikasi dan pengujian awal senolitik, kelompok obat eksperimental yang dirancang untuk menghilangkan sel senesen secara selektif.

Atlas ini diharapkan membantu peneliti menyasar sel yang merugikan tanpa menghilangkan sel yang masih bermanfaat.

Atlas yang disusun akan dibuka untuk publik dan memuat lokasi, perbedaan, serta pengaruh sel senesen terhadap kesehatan manusia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+