Naskah Khutbah Jumat: Jujur Mujur |Republika Online

calendar_today 07.08.2026 - person  - timer ~

Pekerja berjalan menyusuri pedestrian darurat di kawasan Thamrin, Jakarta, Senin (6/7/2026). Pedestrian tersebut sebelumnya merupakan bahu jalan yang diganti menjadi pedestrian darurat lantaran kawasan tersebut terdampak proyek pembangunan stasiun MRT. Meski demikian, fasilitas pedestrian darurat ini dilengkapi fasilitas guiding blok untuk disabilitas, atap penahan benda jatuh hingga dinding dekorasi bernuansa alam untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki.

REPUBLIKA.CO.ID, 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِسْلَامِ وَلَا يَزَالُ يَوَالِى عَلٰى عِبَادِهِ مَوَا سِمِ الْفَضْلِ وَالْاِنْعَامِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِكْرَمِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ .اَمَّا بَعْدُ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ يِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hadirin sidang Jum’ah rahimakumullah

Marilah dalam kesempatan yang baik ini dan di tempat yang berkah ini kita lahirkan dan wujudkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT bukan hanya dalam bentuk lisan tetapi yang lebih penting adalah mendayagunakan setiap nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita untuk sebanyak-banyaknya beribadah kepada-Nya.

Shalawat teriring salam selalu kita sampaikan kepada junjungan, suri tauladan, panutan dan pemimpin kita Nabi dan Rasul Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Dalam kesempatan ini pula mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Hadirin sidang Jum’ah rahimakumullah

Dikisahkan bahwa Mubarak, ayah dari Abdullah bin Mubarak, seorang ulama yang terkenal itu, pernah bekerja di sebuah kebun delima milik seorang saudagar dari negeri Hamdzan. Suatu ketika majikannya datang kepadanya, “Hai Mubarak, aku ingin buah delima yang manis.” Mubarak bergegas menghampiri sebuah pohon delima dan memetik buahnya.

Majikannya lantas membelahnya, tetapi ternyata buah delima itu terasa asam. Ia marah, seraya berkata, “Aku minta yang manis tapi kamu kasih yang asam! Ambilkan aku yang manis!”

Mubarak pun segera berlari memetik delima dari pohon yang lain. Setelah dipecah ternyata rasanya sama, asam. Kontan, majikannya semakin murka. Ia memetik sebuah delima lagi untuk ketiga kalinya, tetapi rasanya makin kecut. Setelah itu, majikannya bertanya, “Apakah kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang asam?”