Muncul Fenomena ‘Telor Ceplok’ di Gunung Anak Krakatau

calendar_today 21.09.2026 - person  - timer ~

Lampung Selatan -

Erupsi gunung Anak Krakatau melahirkan fenomena alam berupa 'telor ceplok' di area puncaknya. Seperti apa fenomena itu?

Gunung Anak Krakatau mulai mereda usai erupsi besar yang terjadi pada 3 September 2026 lalu. Kini hanya tersisa aktivitas kegempaan dan asap putih sisa erupsi.

Dari sisa aktivitas tersebut, muncul fenomena 'telor ceplok' di area Gunung Anak Krakatau. Dalam video yang dibagikan akun instagram @wxchasing terlihat kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gunung berapi itu dalam keadaan tenang usai erupsi besar yang menyebabkan sebaran abu vulkanik ke beberapa provinsi mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta hingga Jawa Barat.

Dalam video tersebut juga terlihat fenomena seperti 'telor ceplok', dimana ada bentuk lingkaran di tengah gunung yang warnanya berbeda dari sekelilingnya.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno menjelaskan fenomena tersebut merupakan hal wajar usai aktivitas erupsi. Gambar yang mirip telor ceplok di Gunung Anak Krakatau adalah air yang tercampur belerang.

"Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," katanya, Jumat (18/9) lalu.

Meski begitu, Suwarno menerangkan tidak semua gunung berapi membentuk fenomena serupa. Menurut dia, fenomena yang terdapat di Gunung Anak Krakatau hasil dari kontaminasi dinding kawah.

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Disana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," jelasnya.

Meski aktivitas erupsi sudah berhenti, Suwarno bilang kegempaan masih terus terjadi. Pada Jumat (18/9) dinihari, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik. Selain itu, terjadi satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.

"Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam Tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)," katanya.

Ia menjelaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III Siaga, untuk itu masyarakat dan wisatawan dihimbau untuk tidak mendekati area GAK dengan radius 3 kilometer.


---------

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)