Motoris kelotok diimbau waspadai kabut asap di Sungai Mentaya

calendar_today 14.10.2026 - person  - timer ~

Motoris kelotok diimbau waspadai kabut asap di Sungai Mentaya

Rabu, 14 Oktober 2026 16:19 WIB

Image Print

Suasana di Sungai Mentaya yang diselimuti kabut asap baru-baru ini. ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengimbau para motoris kelotok atau perahu penyeberangan di Sungai Mentaya, agar meningkatkan kewaspadaan menyusul kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu jarak pandang.

"Terutama yang melayani penyeberangan, agar lebih berhati-hati saat melakukan perjalanan di Sungai Mentaya. Apalagi pada sore hari jarang pandang bisa turun hingga di bawah 100 meter, sangat berpengaruh terhadap keselamatan," kata Kepala Dishub Kotim Raihansyah di Sampit, Rabu.

Ia menjelaskan, imbauan tersebut ditujukan terutama kepada motoris kelotok dan perahu kecil yang melayani mobilitas masyarakat antar kecamatan, seperti rute Sampit-Seranau. Kabut asap tebal dikhawatirkan dapat memicu terjadinya kecelakaan dalam mobilitas masyarakat, termasuk di sungai.

Kondisi kabut asap di Sungai Mentaya berubah-ubah mengikuti arah dan kecepatan angin. Luasnya badan sungai membuat angin bertiup cukup kencang sehingga kabut asap yang menyelimuti kawasan perairan dapat berpindah ke daratan ketika angin berembus.

"Kalau tidak ada angin, kabut asap bisa bertahan di kawasan sungai. Namun, ketika angin mulai berembus, kabut biasanya berpindah ke darat. Karena itu, motoris tetap harus berhati-hati meskipun kondisi perjalanan sejauh ini masih relatif aman," ujarnya.

Ia menyebutkan, pada pagi hari jarak pandang di kawasan sungai diperkirakan sekitar 500 meter. Namun, kondisi tersebut sangat bergantung pada arah angin dan perubahan cuaca yang terjadi setiap hari. Perbedaan kondisi kabut asap bahkan terkadang dapat terlihat dalam waktu berdekatan.

Berdasarkan pemantauannya, ada kondisi pada hari tertentu yang kabut asapnya cukup parah hingga suasana terlihat kekuningan, sedangkan pada hari berikutnya relatif lebih cerah. Perubahan ini cukup sulit dipastikan, sehingga masyarakat dan motoris diminta tidak hanya mengandalkan perkiraan waktu saat menentukan perjalanan.

Terkait batas jarak pandang untuk keselamatan pelayaran, Raihansyah menilai kelotok berukuran kecil masih relatif dapat dikendalikan pada jarak pandang sekitar 100 meter, dengan mempertimbangkan kecepatan perjalanan dan kemampuan motoris mengendalikan kemudi.

Meski begitu, kondisi itu tidak dapat disamakan dengan kapal berukuran besar. Kapal besar membutuhkan jarak lebih panjang untuk memperlambat laju atau melakukan pengereman, sehingga kabut asap berpotensi meningkatkan risiko apabila jarak pandang menurun.

"Untuk kelotok kecil, pada jarak pandang 100 meter masih relatif aman karena kecepatan dan pengendalian kemudinya masih memungkinkan. Namun, kapal besar membutuhkan jarak yang lebih panjang untuk menghentikan laju," ucapnya.

Dishub Kotim hingga kini belum menerima laporan kecelakaan di sungai yang disebabkan oleh kabut asap. Kendati begitu, kewaspadaan tetap diperlukan agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi gangguan keselamatan bagi pengguna transportasi sungai.

Pihaknya juga terus memperketat pengawasan serta berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) vertikal, termasuk unsur syahbandar dan kepolisian sektor pelabuhan, untuk memastikan keselamatan masyarakat yang menggunakan transportasi sungai.

Koordinasi tersebut dilakukan guna meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas penyeberangan sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman, bagi masyarakat yang mengandalkan kelotok sebagai sarana transportasi sehari-hari.

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.