Jakarta -
Kecerdasan buatan (AI) ternyata bukan cuma bisa membantu manusia bekerja. Monyet pun pakai AI untuk uji kecerdasan.
Itulah hasil penelitian ilmuwan Emory University dan Georgia Institute of Technology yang dipublikasikan di The American Journal of Primatology. Mereka mengembangkan CapuchinAI yang bisa mengenali monyet capuchin liar sekaligus menjalankan tes kognitif secara otomatis di tengah hutan.
Sistem ini dibuat untuk menjawab persoalan yang selama ini dihadapi peneliti primata yaitu menguji hewan di alam liar sulitnya bukan main. Sehingga, penelitian tentang kemampuan kognitif hewan biasanya lebih mudah dilakukan di laboratorium karena lingkungannya dapat dikontrol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya CapuchinAI, dua kondisi kontras itu bisa diatasi. Sistem ini menggunakan komputer berukuran kecil, kamera, layar sentuh, serta dispenser makanan.
Ketika seekor monyet mendekati perangkat, AI akan mengenalinya dan menampilkan tugas tertentu di layar. Bila tugas berhasil diselesaikan, sistem otomatis memberikan hadiah berupa makanan.
Dilansir dari New York Times, Jumat (31/7/2026) dalam pengujian di Taboga Forest Reserve, Kosta Rika, CapuchinAI mampu mengenali individu monyet capuchin dengan akurasi 97% setelah dilatih menggunakan foto dan video. Para peneliti juga menemukan monyet liar relatif cepat terbiasa dengan mekanisme layar sentuh dan hubungan antara menyentuh layar dengan mendapatkan makanan.
"Metode AI kita mampu membuat pemahaman mendalam dari setiap hewan yang sudah ada datanya dari observasi lapangan. Kita kini bisa melakukan uji kognitif kepada mereka," kata peneliti utama Federico Sanchez Vargas.
Salah satu monyet bernama Trompudo menjadi yang pertama berinteraksi dengan perangkat tersebut. Setelah menyentuh layar dan mendapatkan potongan pisang, ia kembali menyentuhnya untuk mendapatkan makanan berikutnya. Peneliti melihat perilaku itu sebagai tanda bahwa monyet tersebut dengan cepat memahami cara kerja sistem.
Menariknya, setiap monyet ternyata memiliki gaya belajar berbeda. Ada yang cepat memahami tugas, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Sebagian bahkan mengamati monyet lain terlebih dulu sebelum ikut mencoba. Dalam tahap awal penelitian, 16 monyet telah berinteraksi dengan prototipe CapuchinAI.
Peneliti kini mengembangkan sistem tersebut untuk menguji empat aspek kognitif, yakni kemampuan belajar, kontrol impuls, fleksibilitas kognitif, serta memori jangka pendek dan jangka panjang. AI juga dapat menentukan tes yang diberikan berdasarkan individu monyet yang dikenali.
"Kita bisa menjelajah pertanyaan bagaimana lingkungan, pengalaman individual dan perilaku berhubungan dengan kemampuan kognitif. Kenapa satu hewan bisa lebih baik dari yang lain," kata peneliti lain, Marcela Benitez.
Perangkatnya sendiri dibuat agar murah dan mudah diterapkan di lapangan. Sistem menggunakan Raspberry Pi dan dapat beroperasi sekitar delapan jam menggunakan baterai ringan. Para peneliti berharap teknologi ini nantinya dapat diadaptasi untuk mempelajari spesies primata liar lainnya.
Buat dunia penelitian primata, CapuchinAI bukan berarti menggantikan peneliti manusia. Justru teknologi ini diharapkan menjadi alat baru untuk mengumpulkan data kognitif secara lebih sistematis, langsung dari kehidupan satwa di habitat alaminya.
"Metodology AI kami tidak menggantikan peneliti manusia di lapangan. Tapi ini penting untuk memiliki set data yang kaya dan bisa diamati, yang dikumpulkan oleh peneliti yang bekerja di lapangan," kata Vargas.
(fay/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA