Bagikan:
JAKARTA - Pemerintah Jepang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2026 menjadi 0,9 persen. Angka itu turun dari perkiraan sebelumnya 1,3 persen setelah harga minyak mentah naik dan yen melemah terhadap dolar AS.
Kyodo News dikutip Kamis, 30 Juli, melaporkan, proyeksi baru itu diumumkan pemerintah Jepang pada Kamis dalam laporan tengah tahun. Tahun fiskal 2026 di Jepang dimulai pada April.
Tekanan datang dari dua arah. Harga minyak naik akibat konflik di Timur Tengah. Pada saat yang sama, yen melemah terhadap dolar AS. Bagi Jepang, kombinasi ini berat karena negara tersebut sangat bergantung pada impor energi dan bahan baku.
Kantor Kabinet Jepang memperkirakan yen berada di level 161,4 per dolar AS. Angka itu jauh lebih lemah dibandingkan proyeksi Januari di level 155,2 per dolar AS.
Harga minyak mentah juga diperkirakan naik ke 92,5 dolar AS per barel. Sebelumnya, pemerintah memperkirakan harga minyak berada di 68 dolar AS per barel.
Pelemahan yen membuat biaya impor makin mahal. Kenaikan harga minyak menambah beban karena Jepang miskin sumber daya alam dan rentan terhadap gejolak harga energi global.
Pemerintah Jepang menyebut pertumbuhan upah dan konsumsi rumah tangga masih terbantu oleh subsidi biaya energi. Namun, dorongan itu belum cukup menahan risiko dari minyak mahal dan yen yang lemah.
Untuk tahun fiskal 2027 yang dimulai April mendatang, pemerintah Jepang memperkirakan produk domestik bruto atau PDB tumbuh 1,1 persen. Proyeksi itu bertumpu pada dorongan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk meningkatkan investasi di bidang manajemen krisis dan sektor pertumbuhan strategis.
Kebijakan tersebut diharapkan mendorong pemulihan konsumsi rumah tangga dan meningkatkan investasi modal perusahaan.
Namun, proyeksi terbaru itu belum memasukkan rencana pemangkasan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman selama dua tahun mulai April 2027. Dampaknya terhadap inflasi dan dunia usaha juga belum dihitung.
Kantor Kabinet juga memperbarui proyeksi neraca primer. Defisit neraca primer tahun fiskal 2026 diperkirakan membesar menjadi 1,2 triliun yen atau sekitar 7,3 miliar dolar AS. Angka ini naik dari proyeksi defisit 800 miliar yen pada Juni.
Defisit membesar karena pemerintah perlu membiayai anggaran tambahan untuk tahun berjalan.
Neraca primer adalah selisih antara penerimaan negara, seperti pajak, dan belanja pemerintah, di luar pembayaran bunga utang. Angka ini sering dipakai untuk membaca kesehatan fiskal suatu negara. Jika surplus, pemerintah dapat menutup belanja tanpa harus menerbitkan utang baru.
Dalam skenario pertumbuhan ekonomi yang kuat, neraca primer Jepang diperkirakan berbalik surplus 1,4 triliun yen pada tahun fiskal 2027. Surplus itu disebut dapat mengimbangi tambahan belanja 10 triliun yen untuk mendorong investasi.
Pemerintahan Takaichi tidak lagi menekankan target lama untuk mencapai surplus neraca primer dalam satu tahun. Pemerintah kini memilih menurunkan rasio utang terhadap PDB secara bertahap selama beberapa tahun.
Kritik muncul karena rasio utang terhadap PDB nominal cenderung lebih mudah turun saat inflasi membuat ukuran ekonomi terlihat lebih besar.
Masalah fiskal Jepang tetap berat. Kyodo News mencatat kesehatan fiskal Jepang merupakan yang terburuk di antara negara maju. Total utangnya lebih dari dua kali ukuran ekonominya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+