"It is not about who you are, but who you want to be. Kesuksesan dimulai dari niat yang tulus dan tekad yang kuat,"
Sumbawa (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) bersama Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menghadiri puncak Tasyakuran Milad Satu Dasawarsa Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela di Pamangong, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, Sabtu (18/7).
Kehadiran jajaran pejabat tinggi negara tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan pendidikan pesantren sebagai bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.
Dalam kesempatan itu, Mendikdasmen mengajak para santri untuk memiliki cita-cita besar, optimisme, dan ketekunan dalam menempuh proses pendidikan.
"It is not about who you are, but who you want to be. Kesuksesan dimulai dari niat yang tulus dan tekad yang kuat," ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sujud syukur sebagai ungkapan rasa syukur atas capaian para alumni PMI Dea Malela yang berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi bergengsi di dalam maupun luar negeri.
Acara kemudian dilanjutkan dengan Dialog Motivasi yang menghadirkan alumni dan siswa kelas XII untuk berbagi pengalaman meraih prestasi akademik.
Dalam dialog tersebut, Mendikdasmen menekankan pentingnya optimisme dan konsistensi dalam belajar. Ia mengutip pesan Al-Qur'an agar tidak berputus asa dari rahmat Allah serta mengingatkan bahwa orang sukses adalah mereka yang terus menjaga harapan dan semangat.
Ia juga mengisahkan perjalanan ulama besar Ibnu Hajar yang terinspirasi oleh tetesan air yang mampu melubangi batu. Kisah tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran bahwa kesuksesan merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan kesabaran dan kesungguhan.
"Kunci keberhasilan adalah sabar dan bersungguh-sungguh. *Man jadda wajada*, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil," katanya.
Selain itu, Mendikdasmen mengajak para santri membangun kebiasaan-kebiasaan positif melalui konsep "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH)".
Ia mengaitkan pentingnya konsistensi dengan gagasan dalam buku "Atomic Habits" yang menekankan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Menurutnya, kebiasaan baik akan membawa seseorang dari tingkat "baik" menjadi "hebat" (from good to great). Ia mencontohkan perjalanan pesepak bola muda Lamine Yamal sebagai bukti bahwa konsistensi mampu melahirkan prestasi luar biasa.
"Semoga semakin banyak kader Dea Malela yang menjadi ilmuwan, pemimpin, dan tokoh dunia yang mengharumkan nama Indonesia," ujarnya.
Lima pesan untuk santri
Pada acara puncak milad, Mendikdasmen menyampaikan lima pesan utama kepada para santri.
Pertama, meluruskan niat dan memperkuat tekad karena kesuksesan berawal dari niat yang benar.
Kedua, meneladani perjuangan Ismail Dea Malela yang dikenal mengharumkan nama Indonesia hingga ke Afrika Selatan melalui ilmu pengetahuan dan pengabdian kemanusiaannya.
Ketiga, menjadikan Dea Malela sebagai "bukit peradaban" (valley of civilization).
Menurutnya, sebagaimana para nabi membangun peradaban dari bukit, pesantren juga harus menjadi pusat lahirnya peradaban baru yang membawa manfaat bagi bangsa dan dunia.
Keempat, menjaga ridha orang tua serta menghormati guru sebagai kunci keberkahan ilmu dan kesuksesan hidup.
Kelima, terus belajar dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan semangat agar mampu menjadi generasi penerus yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaulat, dan bermanfaat bagi dunia.
Pesantren bertaraf internasional
PMI Dea Malela didirikan pada 2016 oleh Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin di atas tanah wakaf masyarakat Pamangong, bekas lokasi perjuangan Ismail Dea Malela. Berada di kaki Bukit Olat Utuk, pesantren tersebut mengusung motto "Dari Tana Samawa Membangun Tata Dunia Utama".
Selama satu dekade, PMI Dea Malela telah berkembang menjadi pesantren bertaraf internasional dengan sekitar 800 santri. Sebanyak 50 santri berasal dari berbagai negara, antara lain Timor Leste, Thailand, Kamboja, Filipina, Malaysia, Vietnam, Jepang, dan Rusia.
Lulusannya juga telah melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi di Rusia, Amerika Serikat, Turki, Malaysia, Tiongkok, Kazakhstan, Arab Saudi, Mesir, dan sejumlah negara lainnya.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pesantren mampu menjadi pusat lahirnya generasi Indonesia yang memiliki wawasan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Pemerintah berharap kiprah PMI Dea Malela terus berkembang sebagai salah satu model pendidikan pesantren modern yang melahirkan pemimpin masa depan Indonesia.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026