Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata mengarahkan pengembangan Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran (MICE) untuk mendukung pariwisata bernilai tinggi dengan menjadikan setiap kegiatan berdampak pada aspek perekonomian, sosial, budaya, dan reputasi bagi Indonesia.
"Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027 di Jakarta, Kamis.
Ni Luh mengatakan Indonesia memiliki potensi MICE yang cukup besar. Berdasarkan ICCA GlobalWatch Business Analytics-Country and City Rankings 2025, Indonesia mencatatkan 110 pertemuan asosiasi internasional dan menempati peringkat ke-37 dunia, ke-10 di Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN.
Potensi tersebut didorong melalui strategi promosi, penguatan kemitraan, fasilitasi bidding dan delegate boosting, serta dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan internasional.
Baca juga: RI-Prancis kolaborasi promosikan kuliner lewat "Rendez-vous Rasa"
Upaya tersebut tidak diarahkan sekadar untuk menghadirkan lebih banyak event, tetapi memenangkan lebih banyak kegiatan berkualitas yang mampu menarik peserta internasional, memperkuat citra destinasi dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025-2026, ekosistem MICE dan leisure telah teridentifikasi sebagai salah satu dari enam tren utama pariwisata Indonesia.
Ni Luh mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan perjalanan bisnis semakin terhubung dengan aktivitas rekreasi dan pengalaman di destinasi.
Peserta yang datang untuk konferensi, pertemuan bisnis maupun kegiatan lainnya tidak hanya mengikuti agenda utama, tetapi juga menikmati daya tarik daerah tujuan. Aktivitas tersebut antara lain belanja, kuliner hingga mengunjungi destinasi dan atraksi wisata.
Ia menilai keterhubungan berbagai sektor perlu diperkuat agar atraksi, hotel dan kuliner tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu ekosistem yang mendukung pengalaman wisatawan.
Pengalaman tersebut dapat diperkuat melalui venue dan infrastruktur berstandar internasional, konektivitas yang lebih baik, teknologi digital terkini serta pengalaman bernilai yang mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal sebelum maupun setelah event.
Dengan pendekatan tersebut, perjalanan untuk menghadiri konferensi atau pameran tidak berakhir ketika agenda utama selesai, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman wisata yang lebih panjang dan personal.
Baca juga: Wisatawan cari pengalaman wisata yang berbeda di RI lewat "WITF"
Dia juga menyoroti Indonesia perlu mengejar posisi Singapura yang telah lama tertanam dalam top of mind masyarakat dunia sebagai destinasi MICE.
Ni Luh menekankan Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk membangun posisi tersebut dengan tidak hanya menawarkan venue, tetapi juga pengalaman yang terhubung dengan destinasi, budaya, gastronomi, dan keramahan masyarakat lokal.
"Kita seharusnya tidak kalah dengan Malaysia, dengan Singapura. Singapura mungkin sudah begitu lama untuk menanamkan dalam top of mind masyarakat dunia, dia adalah destinasi untuk MICE. Tapi beyond that, mereka menjualnya juga Indonesia. Kalau kita sudah punya Indonesia, kenapa kita tidak bisa?" kata Ni Luh.
Kementerian Pariwisata dikatakannya memanfaatkan peluang itu melalui program Event by Indonesia sepanjang 2025, di mana penyelenggaraan event yang didukung memberikan dampak ekonomi yang besar.
Dalam data kementerian, berbagai event yang didukung diperkirakan menghadirkan 12,2 juta pengunjung, melibatkan 20.887 UMKM dan 257.561 tenaga kerja, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.
Penyelenggaraan event tersebut juga mendorong perputaran ekonomi sekitar Rp23,76 triliun.
Ni Luh mengatakan nilai sebuah event tidak berhenti ketika kegiatan utama selesai karena aktivitas peserta turut menggerakkan transportasi, hotel, kuliner, produk lokal, daya tarik wisata, UMKM, ekonomi kreatif dan tenaga kerja lokal.
"Inilah yang kemudian kita dorong melalui pengembangan event dan MICE sebagai bagian dari high value tourism yang menjadikan setiap event sebagai pengalaman yang berkesan dan menghasilkan nilai ekonomi, nilai sosial, budaya, serta reputasi yang lebih besar bagi Indonesia," kata dia.
Baca juga: Akses pariwisata ke Indonesia diperkuat lewat "WITF 2026"
Baca juga: Menpar kenalkan keunikan wisata berlayar di Indonesia pada investor
Baca juga: Menpar ajak investor di Monako garap peluang wisata bahari
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.