Liputan6.com, Jakarta - Platform kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) milik Meta mulai meluas ke ranah generator gambar. Namun, pengaturan bawaan fitur tersebut menuai kritik dan dianggap mengganggu pengguna.
Fitur dari Meta memungkinkan siapa pun menggunakan postingan Instagram publik sebagai titik awal pembuatan gambar berbasis AI. Demikian sebagaimana dikutip dari 9to5Mac, Senin (13/7/2026).
Pengguna Instagram perlu menonaktifkan izin fitur tersebut secara manual demi menghindari konten mereka dapat dengan mudah ditandai dan digunakan generator gambar berbasis AI.
Meta telah menghapus fitur tersebut sepenuhnya berdasarkan masukan dari pengguna. Jurnalis teknologi dari Puck, Dylan Byers, membagikan pernyataan dari Meta terhadap keputusan ini di sebuah postingan X.
Dalam pernyataannya, salah satu cara bagi pengguna untuk membuat gambar di Meta AI adalah dengan menyebut (@) akun Instagram yang ingin mereka jadikan referensi.
"Tujuan kami adalah menyediakan fitur kreatif yang bermanfaat serta memberikan kebebasan kepada pengguna atas izin konten publik mereka dapat dijadikan referensi generator gambar AI," Meta menjelaskan.
Perusahaan mengklaim telah menerima masukan bahwa fitur ini tidak sesuai harapan, sehingga kini sudah tidak lagi tersedia.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin pencetak keuntungan yang nyata bagi industri periklanan.
Dalam ajang bergengsi Cannes Lions 2026, Meta mengumumkan rangkaian inovasi AI terbaru yang dirancang untuk mendobrak batasan kreasi iklan, mempererat kolaborasi kreator, sekaligus melejitkan laba atas investasi (Return on Investment/ROI) para pengiklan.
Data terbaru dari analisis berskala besar terhadap lebih dari 1 juta kampanye iklan, dikutip Rabu (24/6/2026), menunjukkan hasil yang fantastis.
Rata-rata, setiap USD 1 yang dikeluarkan pengiklan di platform Meta mampu menghasilkan pendapatan senilai USD 4,13 (sekitar Rp 73.765,92 dengan kurs Rp 17.861). Efisiensi ini melonjak tajam hingga 25 persen dibandingkan performa pada 2022.
Melihat potensi besar tersebut, Meta memperkenalkan solusi kreatif end-to-end yang mampu mempelajari identitas dan karakter unik dari sebuah brand.
Melalui ruang khusus strategi kreatif, tim kreator dan media kini dapat mengolah data kampanye menjadi langkah taktis secara real-time. Hasilnya, setiap keputusan kreatif diambil berdasarkan data performa yang terbukti, bukan lagi sekadar asumsi.
Menariknya, teknologi ini dirancang untuk langsung siap digunakan oleh agensi besar. Meta telah bekerja sama dengan WPP untuk mengintegrasikan sistem ini ke dalam platform WPP Open.
Selain itu, Meta juga menyempurnakan Ads Manager dengan meluncurkan fitur pembuat teks otomatis pada gambar iklan serta alat penerjemah multimedia yang kini resmi mendukung bahasa Indonesia.